<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sila_Adnyana&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://sila89.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sila89.wordpress.com</link>
	<description>Berbagi Untuk Semua, yang pasti Hidup Agriculture....!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 Dec 2009 06:51:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sila89.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sila_Adnyana&#039;s Blog</title>
		<link>http://sila89.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sila89.wordpress.com/osd.xml" title="Sila_Adnyana&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sila89.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>PERTANIAN ORGANIK WUJUD BARU KAPITALISME; Perspektif Ekologi dan Ekonomi</title>
		<link>http://sila89.wordpress.com/2009/12/09/pertanian-organik-wujud-baru-kapitalisme-perspektif-ekologi-dan-ekonomi/</link>
		<comments>http://sila89.wordpress.com/2009/12/09/pertanian-organik-wujud-baru-kapitalisme-perspektif-ekologi-dan-ekonomi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 06:27:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sila Adnyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agribisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sila89.wordpress.com/?p=345</guid>
		<description><![CDATA[Pertanian organik saat ini sedang naik daun. Selain pelaku pertanian organik yang cenderung mengalami peningkatan, jumlah permintaan produk pertanian organik juga semakin meningkat bahkan sulit dipenuhi oleh produsen. Kesadaran konsumen akan makanan yang sehat dan terbebas dari residu pestisida atau zat anorganik lainnya menyebabkan produk pertanian organik semakin banyak dicari. Trend pertanian organik di Indonesia, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sila89.wordpress.com&amp;blog=8664723&amp;post=345&amp;subd=sila89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false         MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pertanian organik saat ini sedang naik daun. Selain pelaku pertanian organik yang cenderung mengalami peningkatan, jumlah permintaan produk pertanian organik juga semakin meningkat bahkan sulit dipenuhi oleh produsen. Kesadaran konsumen akan makanan yang sehat dan terbebas dari residu pestisida atau zat anorganik lainnya menyebabkan produk pertanian organik semakin banyak dicari. Trend pertanian organik di Indonesia, mulai diperkenalkan oleh beberapa petani yang sudah mapan dan memahami keunggulan sistem pertanian organik tersebut. Beberapa ekspatriat yang sudah lama hidup di Indonesia, memiliki lahan yang luas dan ikut membantu mengembangkan aliran pertanian organik tersebut ke penduduk di sekitarnya. Kemudian beberapa mantan perwira yang memiliki hoby bercocok tanam juga sekarang beramai-ramai mulai membenahi lahan luas yang dimiliki mereka dan mempekerjakan penduduk sekitarnya sekaligus alih teknologi. Disamping itu banyak lembaga non pemerintah (NGO) yang bertujuan mengembangkan sistem pertanian organik di Indonesia melalui pembinaan sumberdaya manusia ataupun bertujuan menggapai pasar organik di luar negri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Meskipun beberapa petani sudah mulai mengembangkan dan bertani secara organik sejak lama, sebagai contoh kebun pertanian organik Agatho di Cisarua sudah lebih sepuluh tahun eksis dalam sistem pertanian organik, namun perkembangan pertanian organik di Indonesia baru dimulai sejak empat hingga lima tahun yang lalu. Jauh tertinggal dibandingkan dengan Jepang, Belanda, Perancis, Itali, dan Amerika Serikat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Cikal bakal pertanian oganik sudah sejak lama kita kenal, sejak ilmu bercocok tanam dikenal manusia. Pada saat itu semuanya dilakukan secara tradisonal dan menggunakan bahan-bahan alamiah. Sejalan dengan perkembangan ilmu pertanian dan ledakan populasi manusia maka kebutuhan pangan juga meningkat. Saat itu revolusi hijau di Indonesia memberikan hasil yang signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan pangan. Dimana penggunaan pupuk kimia sintetis, penanaman varietas unggul berproduksi tinggi (high yield variety), penggunaan pestisida, intensifikasi lahan dan lainnya mengalami peningkatan. Namun belakangan ditemukan berbagai permasalahan akibat kesalahan manajemen di lahan pertanian. Pencemaran pupuk kimia, pestisida dan lainnya akibat kelebihan pemakaian bahan-bahan tersebut, ini berdampak terhadap penurunan kualitas lingkungan dan kesehatan manusia akibat selalu tercemar bahan-bahan sintetis tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pemahaman akan bahaya bahan kimia sintetis dalam jangka waktu lama mulai disadari sehingga dicari alternatif bercocok tanam yang dapat menghasilkan produk yang bebas dari cemaran bahan kimia sintetis serta menjaga lingkungan yang lebih sehat. Sejak itulah mulai dilirik kembali cara pertanian alamiah (back to nature). Namun pertanian organik modern sangat berbeda dengan pertanian alamiah di jaman dulu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam pertanian organik modern dibutuhkan teknologi bercocok tanam, penyediaan pupuk organik, pengendalian hama dan penyakit menggunakan agen hayati atau mikroba serta manajemen yang baik untuk kesuksesan pertanian organik tersebut. Pertanian organik di definisikan sebagai sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, dengan cara mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro-ekosistem secara alami, sehingga menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas, dan berkelanjutan (Anonymous, 2000).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Lebih lanjut IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movements) menjelaskan pertanian organik adalah sistem pertanian yang holistik yang mendukung dan mempercepat biodiversiti, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Sertifikasi produk organik yang dihasilkan, penyimpanan, pengolahan, pasca panen dan pemasaran harus sesuai standar yang ditetapkan oleh badan standardisasi. Penggunaan GMOs (Genetically Modified Organisme) tidak diperbolehkan dalam setiap tahapan pertanian organik mulai produksi hingga pasca panen (Anonymous, 2000).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sebagian orang menilai bahwa pertanian konvensional tidak beda dengan pertanian berkelanjutan. Perbedaannya hanya terletak pada penggunaan unsur-unsurnya. Pertanian berkelanjutan lebih menekankan penggunaan unsur-unsur alam, dan mesti bekerjasama dengan alam untuk jangka waktu yang panjang, unsur-unsur yang digunakan untuk usaha pertanian tidak boleh merusak alam. Namun ada juga yang berpendapat bahwa pertanian berkelanjutan harus melawan pertanian konvensional, dengan cara menghentikan total penggunaan bahan ki-mia pertanian.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Menurut Jaker PO (Jaringan Kerja Pertanian Organik) dan IFOAM, ada 4 prinsip dasar dalam membangun gerakan pertanian berkelanjutan :</p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Prinsip ekologi. Prinsip ini mengembangkan      upaya bahwa pola hubungan antara organisme dengan alam adalah satu      kesatuan. Upaya-upaya pemanfaatan air, tanah, udara, iklim serta      sumber-sumber keanekaragaman hayati di alam harus seoptimal mungkin (tidak      mengeksploitasi). Upaya-upaya pelestarian harus sejalan dengan upaya      pemanfaatan.</li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Prinsip teknis produksi dan pengolahan. Prinsip teknis ini merupakan dasar      untuk mengupayakan suatu produk organik. Yang termasuk dalam prinsip ini      mulai dari transisi lahan model pertanian konvensional ke pertanian      berkelanjutan, cara pengelolaannya, pemupukan, pengelolaan hama dan      penyakit hingga penggunaan teknologi yang digunakan sejauh mungkin      mempertimbangkan kondisi fisik setempat.</li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Prinsip sosial ekonomis. Prinsip ini      menekankan pada penerimaan model pertanian secara sosial dan secara      ekonomis menguntungkan petani. Selain itu juga mendorong berkembangnya      kearifan lokal, kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, dan mendorong      kemandirian petani.</li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Prinsip politik. Prinsip ini mengutamakan      adanya kebijakan yang tidak bertentangan dengan upaya pengembangan      pertanian berkelanjutan. Kebijakan ini baik dalam upaya produksi,      kebijakan harga, maupun adanya pemasaran yang adil (Dewi, 2006).</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>PERSPEKTIF EKOLOGI</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Revolusi hijau yang dipandang sebagai sebuah perubahan menuju ke arah yang lebih baik ternyata membawa dampak seperti sebuah bom waktu. Capra (1999) menyatakan bahwa revolusi hijau tidak membantu para petani, tanah maupun jutaan penduduk dunia yang kelaparan. Revolusi hijau hanya membawa keuntungan bagi korporasi petrokimia. Revolusi hijau telah menggeser berbagai pengetahuan lokal yang ada pada petani kita dan menggantikannya dengan teknologi. WS Jackson dalam Capra (1999) mengungkapkan bahwa revolusi hijau merubah dasar pertanian kita dari semula tanah menjadi minyak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Revolusi hijau berkembang karena pemahaman yang keliru pada konsep ekonomi. Efisiensi dan produktivitas menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan pembangunan pada masyarakat industri. Konsep inipun menyebar tanpa pandang bulu hingga ke negara agraris. Teknologi, sebagai salah satu upaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas juga diberlakukan pada bidang pertanian. Teknologi yang berkembang sering tidak ramah lingkungan dan budaya, sehingga lingkungan serta nilai budaya masyarakat lokal menjadi korbannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Berbagai konsep yang berkembang dalam ekologi pada akhirnya dapat mengerucut pada berbagai perspektif. Capra (2001) dan Ife (2002) berhasil memformulasikan beberapa prinsip ekologi yang dapat dijadikan sebagai perspektif berbagai kalangan. Ife mengemukakan empat prinsip ekologi, yaitu holistik, keberlanjutan, keanekaragaman dan keseimbangan. Sedangkan Capra mengemukakan lima prinsip ekologi, yaitu kesalingterhantungan, jejaring kerja, kerjasama, fleksibilitas dan keanekaragaman.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sachs (1984) menyatakan bahwa ekologi manusia mengaitkan ekologi dengan ekonomi. Dalam hal ini ekologi merangkum falsafah pengelolaan sumberdaya yang mengupayakan produktivitas lewat dukungan ekosistem. Ekologi memacu kecerdikan manusia untuk merubah unsur-unsur suatu lingkungan tertentu menjadi sumberdaya ekonomi tanpa menggoyahkan neraca ekologi alam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>PERSPEKTIF EKONOMI</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Perkembangan pertanian organik tidak dapat lepas dari tingginya permintaan produk ini. Menurut Soekartawi (1976), permintaan adalah sejumlah barang yang sanggup dibeli oleh konsumen pada tempat, waktu dan harga tertentu yang berlaku. Sedangkan Bishop dan Toussaint (1998) menyatakan bahwa konsep permintaan dipergunakan untuk mengetahui hubungan jumlah barang yang dibeli oleh konsumen dengan harga alternatif untuk membeli barang tersebut dengan anggapan bahwa harga barang lainnya tetap. Permintaan dipengaruhi oleh jumlah penduduk, pendapatan, harga barang, harga barang lainnya dan selera konsumen.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tingginya permintaan tersebut tidak dibarengi dengan jumlah produk pertanian organik yang ditawarkan. Komunitas petani organik di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung masih belum mampu memenuhi permintaan produk pertanian organik yang semakin meningkat (Pikiran Rakyat, 13 Maret 2006). Tingginya permintaan menyebabkan harga di pasaran juga melambung. Selain faktor ketidakseimbangan permintaan dan penawaran, salah satu faktor yang membuat produk pertanian organik mahal adalah berbagai kelebihan yang ditawarkan oleh produk pertanian organik. Konsumen yang memahami manfaat produk pertanian organik akan dengan suka rela membayar berapapun harga yang ditawarkan dengan alasan kesehatan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>EKONOMI PASAR</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Permintaan yang tinggi serta harga yang menggiurkan membuat beberapa pengusaha besar pun melirik pertanian organik. Terlepas bahwa mayoritas orang Indonesia masih menyangsikan pertanian organik, namun secara nyata pertanian organik mulai bermunculan. Pemicu utamanya adalah keuntungan ekonomis. Bisnis pertanian organik semakin banyak karena menyimpan keuntungan besar. Sebenarnya kalangan birokrat sekarang pun mulai melirik pertanian organik, tetapi yang menggerakkan mereka bukan soal kesadaran ekologi tetapi lebih karena negara maju banyak yang mencari, artinya peluang meraup devisa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Salah satu ciri bisnis dengan pendekatan kapitalis adalah memaksimalkan keuntungan sebesar-besarnya. Ketika pertanian organik membawa peluang untuk meraup keuntungan segala cara pun dilakukan, hal ini membawa dampak pada petani yang nasibnya tidak berubah seperti pada pertanian konvensional. Petani hanya sebatas sebagai buruh di lahannya sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Produk pertanian organik selama ini memiliki pasar yang tersendiri. Sebagian besar konsumennya ada di kota-kota besar yang terdiri dari kaum ekspatriat dan golongan menengah atas. Harga yang sangat tinggi sebenarnya sangat bertolak belakang dengan prinsip pertanian organik, apalagi distribusi margin yang tidak merata. Harga di tingkat petani berbeda jauh dengan harga di swalayan atau toko yang mengkhususkan menjual produk organik. Seharusnya dengan input yang minimal, pertanian organik mampu menekan biaya sehingga harga produk organik tidak sepantasnya mahal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mahalnya harga produk pertanian organik tidak dapat lepas dari permainan di jalur distribusi. Pihak perantara, yaitu pedagang seringkali menggunakan pendekatan psikologis dalam menentukan harga. Asumsinya adalah produk yang berkualitas, terjamin kesehatannya dan tidak mengandung residu bahan anorganik haruslah berharga mahal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tingginya keuntungan dari perdagangan produk pertanian organik menyebabkan bermunculannya toko-toko retail yang memiliki jaringan nasional maupun internasional untuk membuka gerai organik. Bahkan di beberapa kota besar terdapat toko yang mengkhususkan untuk menjual produk organik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Untuk mengurangi kesenjangan distribusi margin, beberapa LSM pendamping petani yang mengembangkan pertanian organik berusaha untuk memotong distribusi pemasaran. Mereka membentuk komunitas petani organik yang tidak hanya melakukan budidaya dengan sistem organik namun juga melakukan usaha pemasaran produknya secara langsung ke konsumen. Harga yang ditawarkan tentu jauh berbeda dengan harga di pasar swalayan. Terdapat dua tujuan dalam melakukan pemasaran langsung, yaitu menambah margin dan juga mensosialisasikan pertanian organik pada masyarakat. Harga yang relatif terjangkau dan komunikasi langsung dengan konsumen diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya produk anorganik. Hasil akhir yang diharapkan tentunya adalah semakin banyak masyarakat yang beralih kepada produk pertanian organik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Masuknya pengusaha besar menimbulkan pertanyaan apakah isu ekologi telah menyadarkan kita semua ataukah hanya dikarenakan permintaan pasar yang berujung pada keuntungan semata. Namun demikian paling tidak ada nilai tambah yang dapat dicapai, yaitu kelestarian lingkungan. Apapun yang menjadi latar belakang masuknya pengusaha besar dalam bisnis pertanian organik, lingkungan mendapatkan manfaat berupa pelestarian.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Apabila ditinjau dari sisi ekologi memang tidak ada permasalahan apakah pertanian organik yang berkembang saat ini merupakan buah dari kesadaran ekologi ataukah peluang pasar. Namun demikian, kesejahteraan petani perlu lebih dipikirkan. Jangan sampai pertanian organik merupakan wujud dari kapitalisme gaya baru yang semakin menghisap petani kecil.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>PENUTUP</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pertanian organik saat ini terus berkembang di Indonesia. Pendorong utamanya adalah kekuatan bisnis, selain permintaan yang besar. Mengingat watak bisnis kapitalistis yang serakah dan tak kenal henti akan keuntungan, maka bisnis pertanian organik perlu diawasi. Terlepas dari kesadaran ekologi atau ekonomi pasar, pertanian organik telah membawa manfaat besar bagi lingkungan. Namun demikian pertanian organik bukan saja soal lingkungan yang lebih baik atau soal kesejahteraan ekonomi petani, tetapi juga menyangkut demokrasi ekonomi. Semoga pertanian organik bukan wujud baru dari sang kapitalisme. Amien.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<div id="_mcePaste" style="overflow:hidden;position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;text-align:left;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false         MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]-->&lt;!&#8211;[if !mso]&gt;  &lt;!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &#8211;&gt; <!--[endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-alt:"ＭＳ 明朝"; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 134676480 16 0 131072 0;} @font-face 	{font-family:"\@MS Mincho"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 134676480 16 0 131072 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1488983100; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-132090626 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:&quot;&quot;; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pertanian organik saat ini sedang naik daun. Selain pelaku pertanian organik yang cenderung mengalami peningkatan, jumlah permintaan produk pertanian organik juga semakin meningkat bahkan sulit dipenuhi oleh produsen. Kesadaran konsumen akan makanan yang sehat dan terbebas dari residu pestisida atau zat anorganik lainnya menyebabkan produk pertanian organik semakin banyak dicari. Trend pertanian organik di Indonesia, mulai diperkenalkan oleh beberapa petani yang sudah mapan dan memahami keunggulan sistem pertanian organik tersebut. Beberapa ekspatriat yang sudah lama hidup di Indonesia, memiliki lahan yang luas dan ikut membantu mengembangkan aliran pertanian organik tersebut ke penduduk di sekitarnya. Kemudian beberapa mantan perwira yang memiliki hoby bercocok tanam juga sekarang beramai-ramai mulai membenahi lahan luas yang dimiliki mereka dan mempekerjakan penduduk sekitarnya sekaligus alih teknologi. Disamping itu banyak lembaga non pemerintah (NGO) yang bertujuan mengembangkan sistem pertanian organik di Indonesia melalui pembinaan sumberdaya manusia ataupun bertujuan menggapai pasar organik di luar negri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Meskipun beberapa petani sudah mulai mengembangkan dan bertani secara organik sejak lama, sebagai contoh kebun pertanian organik Agatho di Cisarua sudah lebih sepuluh tahun eksis dalam sistem pertanian organik, namun perkembangan pertanian organik di Indonesia baru dimulai sejak empat hingga lima tahun yang lalu. Jauh tertinggal dibandingkan dengan Jepang, Belanda, Perancis, Itali, dan Amerika Serikat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Cikal bakal pertanian oganik sudah sejak lama kita kenal, sejak ilmu bercocok tanam dikenal manusia. Pada saat itu semuanya dilakukan secara tradisonal dan menggunakan bahan-bahan alamiah. Sejalan dengan perkembangan ilmu pertanian dan ledakan populasi manusia maka kebutuhan pangan juga meningkat. Saat itu revolusi hijau di Indonesia memberikan hasil yang signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan pangan. Dimana penggunaan pupuk kimia sintetis, penanaman varietas unggul berproduksi tinggi (high yield variety), penggunaan pestisida, intensifikasi lahan dan lainnya mengalami peningkatan. Namun belakangan ditemukan berbagai permasalahan akibat kesalahan manajemen di lahan pertanian. Pencemaran pupuk kimia, pestisida dan lainnya akibat kelebihan pemakaian bahan-bahan tersebut, ini berdampak terhadap penurunan kualitas lingkungan dan kesehatan manusia akibat selalu tercemar bahan-bahan sintetis tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pemahaman akan bahaya bahan kimia sintetis dalam jangka waktu lama mulai disadari sehingga dicari alternatif bercocok tanam yang dapat menghasilkan produk yang bebas dari cemaran bahan kimia sintetis serta menjaga lingkungan yang lebih sehat. Sejak itulah mulai dilirik kembali cara pertanian alamiah (back to nature). Namun pertanian organik modern sangat berbeda dengan pertanian alamiah di jaman dulu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam pertanian organik modern dibutuhkan teknologi bercocok tanam, penyediaan pupuk organik, pengendalian hama dan penyakit menggunakan agen hayati atau mikroba serta manajemen yang baik untuk kesuksesan pertanian organik tersebut. Pertanian organik di definisikan sebagai sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, dengan cara mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro-ekosistem secara alami, sehingga menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas, dan berkelanjutan (Anonymous, 2000).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Lebih lanjut IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movements) menjelaskan pertanian organik adalah sistem pertanian yang holistik yang mendukung dan mempercepat biodiversiti, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Sertifikasi produk organik yang dihasilkan, penyimpanan, pengolahan, pasca panen dan pemasaran harus sesuai standar yang ditetapkan oleh badan standardisasi. Penggunaan GMOs (Genetically Modified Organisme) tidak diperbolehkan dalam setiap tahapan pertanian organik mulai produksi hingga pasca panen (Anonymous, 2000).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sebagian orang menilai bahwa pertanian konvensional tidak beda dengan pertanian berkelanjutan. Perbedaannya hanya terletak pada penggunaan unsur-unsurnya. Pertanian berkelanjutan lebih menekankan penggunaan unsur-unsur alam, dan mesti bekerjasama dengan alam untuk jangka waktu yang panjang, unsur-unsur yang digunakan untuk usaha pertanian tidak boleh merusak alam. Namun ada juga yang berpendapat bahwa pertanian berkelanjutan harus melawan pertanian konvensional, dengan cara menghentikan total penggunaan bahan ki-mia pertanian.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Menurut Jaker PO (Jaringan Kerja Pertanian Organik) dan IFOAM, ada 4 prinsip dasar dalam membangun gerakan pertanian berkelanjutan :</p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Prinsip ekologi. Prinsip ini mengembangkan      upaya bahwa pola hubungan antara organisme dengan alam adalah satu      kesatuan. Upaya-upaya pemanfaatan air, tanah, udara, iklim serta      sumber-sumber keanekaragaman hayati di alam harus seoptimal mungkin (tidak      mengeksploitasi). Upaya-upaya pelestarian harus sejalan dengan upaya      pemanfaatan.</li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Prinsip teknis produksi dan pengolahan. Prinsip teknis ini merupakan dasar      untuk mengupayakan suatu produk organik. Yang termasuk dalam prinsip ini      mulai dari transisi lahan model pertanian konvensional ke pertanian      berkelanjutan, cara pengelolaannya, pemupukan, pengelolaan hama dan      penyakit hingga penggunaan teknologi yang digunakan sejauh mungkin      mempertimbangkan kondisi fisik setempat.</li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Prinsip sosial ekonomis. Prinsip ini      menekankan pada penerimaan model pertanian secara sosial dan secara      ekonomis menguntungkan petani. Selain itu juga mendorong berkembangnya      kearifan lokal, kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, dan mendorong      kemandirian petani.</li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Prinsip politik. Prinsip ini mengutamakan      adanya kebijakan yang tidak bertentangan dengan upaya pengembangan      pertanian berkelanjutan. Kebijakan ini baik dalam upaya produksi,      kebijakan harga, maupun adanya pemasaran yang adil (Dewi, 2006).</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>PERSPEKTIF EKOLOGI</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Revolusi hijau yang dipandang sebagai sebuah perubahan menuju ke arah yang lebih baik ternyata membawa dampak seperti sebuah bom waktu. Capra (1999) menyatakan bahwa revolusi hijau tidak membantu para petani, tanah maupun jutaan penduduk dunia yang kelaparan. Revolusi hijau hanya membawa keuntungan bagi korporasi petrokimia. Revolusi hijau telah menggeser berbagai pengetahuan lokal yang ada pada petani kita dan menggantikannya dengan teknologi. WS Jackson dalam Capra (1999) mengungkapkan bahwa revolusi hijau merubah dasar pertanian kita dari semula tanah menjadi minyak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Revolusi hijau berkembang karena pemahaman yang keliru pada konsep ekonomi. Efisiensi dan produktivitas menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan pembangunan pada masyarakat industri. Konsep inipun menyebar tanpa pandang bulu hingga ke negara agraris. Teknologi, sebagai salah satu upaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas juga diberlakukan pada bidang pertanian. Teknologi yang berkembang sering tidak ramah lingkungan dan budaya, sehingga lingkungan serta nilai budaya masyarakat lokal menjadi korbannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Berbagai konsep yang berkembang dalam ekologi pada akhirnya dapat mengerucut pada berbagai perspektif. Capra (2001) dan Ife (2002) berhasil memformulasikan beberapa prinsip ekologi yang dapat dijadikan sebagai perspektif berbagai kalangan. Ife mengemukakan empat prinsip ekologi, yaitu holistik, keberlanjutan, keanekaragaman dan keseimbangan. Sedangkan Capra mengemukakan lima prinsip ekologi, yaitu kesalingterhantungan, jejaring kerja, kerjasama, fleksibilitas dan keanekaragaman.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sachs (1984) menyatakan bahwa ekologi manusia mengaitkan ekologi dengan ekonomi. Dalam hal ini ekologi merangkum falsafah pengelolaan sumberdaya yang mengupayakan produktivitas lewat dukungan ekosistem. Ekologi memacu kecerdikan manusia untuk merubah unsur-unsur suatu lingkungan tertentu menjadi sumberdaya ekonomi tanpa menggoyahkan neraca ekologi alam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>PERSPEKTIF EKONOMI</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Perkembangan pertanian organik tidak dapat lepas dari tingginya permintaan produk ini. Menurut Soekartawi (1976), permintaan adalah sejumlah barang yang sanggup dibeli oleh konsumen pada tempat, waktu dan harga tertentu yang berlaku. Sedangkan Bishop dan Toussaint (1998) menyatakan bahwa konsep permintaan dipergunakan untuk mengetahui hubungan jumlah barang yang dibeli oleh konsumen dengan harga alternatif untuk membeli barang tersebut dengan anggapan bahwa harga barang lainnya tetap. Permintaan dipengaruhi oleh jumlah penduduk, pendapatan, harga barang, harga barang lainnya dan selera konsumen.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tingginya permintaan tersebut tidak dibarengi dengan jumlah produk pertanian organik yang ditawarkan. Komunitas petani organik di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung masih belum mampu memenuhi permintaan produk pertanian organik yang semakin meningkat (Pikiran Rakyat, 13 Maret 2006). Tingginya permintaan menyebabkan harga di pasaran juga melambung. Selain faktor ketidakseimbangan permintaan dan penawaran, salah satu faktor yang membuat produk pertanian organik mahal adalah berbagai kelebihan yang ditawarkan oleh produk pertanian organik. Konsumen yang memahami manfaat produk pertanian organik akan dengan suka rela membayar berapapun harga yang ditawarkan dengan alasan kesehatan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>EKONOMI PASAR</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Permintaan yang tinggi serta harga yang menggiurkan membuat beberapa pengusaha besar pun melirik pertanian organik. Terlepas bahwa mayoritas orang Indonesia masih menyangsikan pertanian organik, namun secara nyata pertanian organik mulai bermunculan. Pemicu utamanya adalah keuntungan ekonomis. Bisnis pertanian organik semakin banyak karena menyimpan keuntungan besar. Sebenarnya kalangan birokrat sekarang pun mulai melirik pertanian organik, tetapi yang menggerakkan mereka bukan soal kesadaran ekologi tetapi lebih karena negara maju banyak yang mencari, artinya peluang meraup devisa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Salah satu ciri bisnis dengan pendekatan kapitalis adalah memaksimalkan keuntungan sebesar-besarnya. Ketika pertanian organik membawa peluang untuk meraup keuntungan segala cara pun dilakukan, hal ini membawa dampak pada petani yang nasibnya tidak berubah seperti pada pertanian konvensional. Petani hanya sebatas sebagai buruh di lahannya sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Produk pertanian organik selama ini memiliki pasar yang tersendiri. Sebagian besar konsumennya ada di kota-kota besar yang terdiri dari kaum ekspatriat dan golongan menengah atas. Harga yang sangat tinggi sebenarnya sangat bertolak belakang dengan prinsip pertanian organik, apalagi distribusi margin yang tidak merata. Harga di tingkat petani berbeda jauh dengan harga di swalayan atau toko yang mengkhususkan menjual produk organik. Seharusnya dengan input yang minimal, pertanian organik mampu menekan biaya sehingga harga produk organik tidak sepantasnya mahal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mahalnya harga produk pertanian organik tidak dapat lepas dari permainan di jalur distribusi. Pihak perantara, yaitu pedagang seringkali menggunakan pendekatan psikologis dalam menentukan harga. Asumsinya adalah produk yang berkualitas, terjamin kesehatannya dan tidak mengandung residu bahan anorganik haruslah berharga mahal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tingginya keuntungan dari perdagangan produk pertanian organik menyebabkan bermunculannya toko-toko retail yang memiliki jaringan nasional maupun internasional untuk membuka gerai organik. Bahkan di beberapa kota besar terdapat toko yang mengkhususkan untuk menjual produk organik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Untuk mengurangi kesenjangan distribusi margin, beberapa LSM pendamping petani yang mengembangkan pertanian organik berusaha untuk memotong distribusi pemasaran. Mereka membentuk komunitas petani organik yang tidak hanya melakukan budidaya dengan sistem organik namun juga melakukan usaha pemasaran produknya secara langsung ke konsumen. Harga yang ditawarkan tentu jauh berbeda dengan harga di pasar swalayan. Terdapat dua tujuan dalam melakukan pemasaran langsung, yaitu menambah margin dan juga mensosialisasikan pertanian organik pada masyarakat. Harga yang relatif terjangkau dan komunikasi langsung dengan konsumen diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya produk anorganik. Hasil akhir yang diharapkan tentunya adalah semakin banyak masyarakat yang beralih kepada produk pertanian organik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Masuknya pengusaha besar menimbulkan pertanyaan apakah isu ekologi telah menyadarkan kita semua ataukah hanya dikarenakan permintaan pasar yang berujung pada keuntungan semata. Namun demikian paling tidak ada nilai tambah yang dapat dicapai, yaitu kelestarian lingkungan. Apapun yang menjadi latar belakang masuknya pengusaha besar dalam bisnis pertanian organik, lingkungan mendapatkan manfaat berupa pelestarian.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Apabila ditinjau dari sisi ekologi memang tidak ada permasalahan apakah pertanian organik yang berkembang saat ini merupakan buah dari kesadaran ekologi ataukah peluang pasar. Namun demikian, kesejahteraan petani perlu lebih dipikirkan. Jangan sampai pertanian organik merupakan wujud dari kapitalisme gaya baru yang semakin menghisap petani kecil.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>PENUTUP</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pertanian organik saat ini terus berkembang di Indonesia. Pendorong utamanya adalah kekuatan bisnis, selain permintaan yang besar. Mengingat watak bisnis kapitalistis yang serakah dan tak kenal henti akan keuntungan, maka bisnis pertanian organik perlu diawasi. Terlepas dari kesadaran ekologi atau ekonomi pasar, pertanian organik telah membawa manfaat besar bagi lingkungan. Namun demikian pertanian organik bukan saja soal lingkungan yang lebih baik atau soal kesejahteraan ekonomi petani, tetapi juga menyangkut demokrasi ekonomi. Semoga pertanian organik bukan wujud baru dari sang kapitalisme. Amien.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sila89.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sila89.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sila89.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sila89.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sila89.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sila89.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sila89.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sila89.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sila89.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sila89.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sila89.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sila89.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sila89.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sila89.wordpress.com/345/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sila89.wordpress.com&amp;blog=8664723&amp;post=345&amp;subd=sila89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sila89.wordpress.com/2009/12/09/pertanian-organik-wujud-baru-kapitalisme-perspektif-ekologi-dan-ekonomi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a610b0efd361aab89f05e5521e32be80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">De&#039; Sila</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Budidaya Mentimun</title>
		<link>http://sila89.wordpress.com/2009/09/14/budidaya-mentimun/</link>
		<comments>http://sila89.wordpress.com/2009/09/14/budidaya-mentimun/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 12:26:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sila Adnyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sila89.wordpress.com/?p=342</guid>
		<description><![CDATA[I. PENDAHULUAN Produksi mentimun di Indonesia masih sangat rendah padahal potensinya masih bisa ditingkatkan. Untuk itu PT. Natural Nusantara berupaya turut membantu meningkatkan produksi secara Kualitas, Kuantitas dan Kelestarian (K-3). II. SYARAT PERTUMBUHAN 2.1. Iklim Adaptasi mentimun pada berbagai iklim cukup tinggi, namun pertumbuhan optimum pada iklim kering. Cukup mendapat sinar matahari, temperatur (21,1 &#8211; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sila89.wordpress.com&amp;blog=8664723&amp;post=342&amp;subd=sila89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Arial;font-size:85%;"><strong>I. PENDAHULUAN</strong><br />
Produksi mentimun di Indonesia masih sangat rendah padahal potensinya masih bisa ditingkatkan. Untuk itu PT. Natural Nusantara berupaya turut membantu meningkatkan produksi secara Kualitas, Kuantitas dan Kelestarian (K-3).</span></p>
<p><strong>II. SYARAT PERTUMBUHAN</strong><br />
<strong>2.1. Iklim</strong><br />
Adaptasi mentimun pada berbagai iklim cukup tinggi, namun pertumbuhan optimum pada iklim kering. Cukup mendapat sinar matahari, temperatur (21,1 &#8211; 26,7)°C dan tidak banyak hujan. Ketinggian optimum 1.000 &#8211; 1.200 mdpl.</p>
<p><strong>2.2. Media Tanam</strong><br />
Tanah gembur, banyak mengandung humus, tata air baik, tanah mudah meresapkan air, pH tanah 6-7.</p>
<p><strong>III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA</strong><br />
<strong>3.1. Pembibitan</strong><br />
a. Siapkan Natural GLIO dan campurkan dengan pupuk kandang matang, diamkan 1 minggu.<br />
b. Siapkan tanah halus dan pukan dapat diganti SUPERNASA / POC NASA yang telah dicampur Natural GLIO (tanah : pukan = 7:3) dan masukkan polybag.<br />
c.  Rendam benih dalam larutan POC NASA dan air hangat (2cc/l) selama 30 menit.<br />
d. Peram selama 12 jam. Setiap benih yang berkecambah dipindahkan ke polibag sedalam 0,5-1 cm.<br />
e. Polybag dinaungi plastik bening dan bibit disiram dua kali sehari.<br />
f.  Semprotkan POC NASA (2cc/l air) pada 7 hss.<br />
g. Setelah berumur 12 hari atau berdaun 3-4 helai, bibit dipindahkan ke kebun.<br />
3.2. Pengolahan Media Tanam<br />
a. Bersihkan lahan dari gulma, rumput, pohon yang tidak diperlukan.<br />
b. Berikan kalsit/dolomit (pH tanah &lt;6 : 1-2 ton/ha)<br />
c. Tanah dibajak/dicangkul 30-35cm sambil membalikkan tanah dan biarkan 2 minggu.<br />
d. Olah kembali tanah sambil membuat bedengan lebar 120 cm, tinggi 30-40 cm dan jarak antar bedengan 30 cm.<br />
e. Tambahkan pupuk kandang 20-30 ton/ha atau 0,5 kg pupuk kandang ke setiap lubang tanam 40 x 40 x 40 cm.<br />
f. Berikan pupuk NPK 100 kg/ha (1/3 dari dosis keseluruhan).<br />
g. Siramkan POP SUPERNASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis ± 1 botol/1000 m² dengan cara :<br />
Alternatif 1 : 1 botol POP SUPERNASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.<br />
Alternatif 2  : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan POP SUPERNASA untuk menyiram 5-10 meter bedengan.<br />
h. Pasang mulsa. Dan 1 minggu kemudian buat lubang tanam.<br />
i. Taburkan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dengan pukan pada setiap lubang tanam (1 kemasan + 25-50 kg pukan matang untuk 1000 m2).</p>
<p><strong>3.3. Penanaman</strong><br />
- Siram bibit dalam polibag dengan air<br />
- Keluarkan bibit bersama medianya dari polibag.<br />
- Tanamkan bibit di lubang tanam dan padatkan tanah di sekitar batang.</p>
<p><strong>3.4. Pemeliharaan Tanaman</strong><br />
- Tanaman yang rusak atau mati dicabut dan segera disulam dengan tanaman yang baik.<br />
- Bersihkan gulma (bisa bersama waktu pemupukan).<br />
- Pasang ajir pada 5 hst ( hari setelah tanam ) untuk merambatkan tanaman.<br />
- Daun yang terlalu lebat dipangkas, dilakukan 3 minggu setelah tanam pada pagi atau sore hari.<br />
- Pengairan dan Penyiraman rutin dilakukan setiap pagi dan sore hari dengan cara di siram atau menggenangi lahan selama 15-30 menit. -Selanjutnya pengairan hanya dilakukan jika diperlukan dan diintensifkan kembali pada masa pembungaan dan pembuahan.</p>
<p><strong>3.5. Pemupukan:</strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="323"><!--DWLayoutTable--></p>
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="113" valign="top">
<div><strong>Waktu</strong></div>
</td>
<td colspan="4" height="21" valign="top">
<div><strong>Pupuk (kg)</strong></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="47" height="21" valign="top">
<div><strong>TSP</strong></div>
</td>
<td width="47" valign="top">
<div><strong>Urea</strong></div>
</td>
<td width="47" valign="top">
<div><strong>KCL</strong></div>
</td>
<td width="57" valign="top">
<div><strong>Pukan</strong></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="21" valign="top">Pupuk Dasar</td>
<td valign="top">
<div>150</div>
</td>
<td valign="top">
<div>150</div>
</td>
<td valign="top">
<div>150</div>
</td>
<td rowspan="5" valign="top">
<div>20.000</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="21" valign="top">3-5 hst</td>
<td valign="top">
<div>100</div>
</td>
<td valign="top">
<div>150</div>
</td>
<td valign="top">
<div>100</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="21" valign="top">10 hst</td>
<td valign="top">
<div>250</div>
</td>
<td valign="top">
<div>300</div>
</td>
<td valign="top">
<div>100</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="21" valign="top">Setelah    berbunga</td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<div>250</div>
</td>
<td valign="top">
<div>250</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="21" valign="top">Setelah    Panen I</td>
<td valign="top"></td>
<td valign="top">
<div>100</div>
</td>
<td valign="top">
<div>100</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="249" valign="top">POC NASA +<br />
Hormonik</p>
<p>(Mulai umur<br />
2–10    minggu)</td>
<td colspan="4" valign="top"><strong><span style="text-decoration:underline;">Disemprotkan ke daun</span> :</strong></p>
<ul>
<li><strong>Alternatif    1</strong>: 8 kali ( interval 1 minggu sekali) dgn dosis 3 – 4 tutup <strong>POC NASA</strong> + 1 tutup <strong>Hormonik</strong> per tangki</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Alternatif    2</strong>: 4 kali (interval 2 minggu sekali ) dgn dosis 6 &#8211; 8 tutup <strong>POC NASA</strong> + 1 tutup <strong>Hormonik</strong> per tangki</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="2"></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><span style="font-family:Arial;font-size:85%;"> </span></p>
<p><strong>3.6. Hama dan Penyakit</strong><br />
<strong>3.6.1. Hama</strong><br />
a.  Oteng-oteng atau Kutu Kuya (Aulocophora similis Oliver).<br />
Kumbang daun berukuran 1 cm dengan sayap kuning polos. Gejala : merusak dan memakan daging daun sehingga daun bolong; pada serangan berat, daun tinggal tulangnya. Pengendalian : Natural BVR atau PESTONA.</p>
<p>b. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)<br />
Ulat ini berwarna hitam dan menyerang tanaman terutama yang masih muda. Gejala: Batang tanaman dipotong disekitar leher akar.</p>
<p>c. Lalat buah (Dacus cucurbitae Coq.)<br />
Lalat dewasa berukuran 1-2 mm. Lalat menyerang mentimun muda untuk bertelur, Gejala: memakan daging buah sehingga buah abnormal dan membusuk. Pengendalian : Natural METILAT.</p>
<p>d. Kutu daun (Aphis gossypii Clover)<br />
Kutu berukuran 1-2 mm, berwarna kuning atau kuning kemerahan atau hijau gelap sampai hitam. Gejala: menyerang pucuk tanaman sehingga daun keriput, kerititing dan menggulung. Kutu ini juga penyebar virus. Pengendalian : Natural BVR atau PESTONA</p>
<p><strong>3.6.2. Penyakit</strong><br />
a. Busuk daun (Downy mildew)<br />
Penyebab : Pseudoperonospora cubensis Berk et Curt. Menginfeksi kulit daun pada kelembaban udara tinggi, temperatur 16 &#8211; 22°C dan berembun atau berkabut. Gejala : daun berbercak kuning dan berjamur, warna daun akan menjadi coklat dan busuk. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.</p>
<p>b. Penyakit tepung (Powdery mildew )<br />
Penyebab : Erysiphe cichoracearum. Berkembang jika tanah kering di musim kemarau dengan kelemaban tinggi. Gejala : permukaan daun dan batang muda ditutupi tepung putih, kemudian berubah menjadi kuning dan mengering. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.</p>
<p>c. Antraknose<br />
Penyebab : cendawan Colletotrichum lagenarium Pass. Gejala: bercak-bercak coklat pada daun. Bentuk bercak agak bulat atau bersudut-sudut dan menyebabkan daun mati; gejala bercak dapat meluas ke batang, tangkai dan buah. Bila udara lembab, di tengah bercak terbentuk massa spora berwarna merah jambu. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.</p>
<p>d. Bercak daun bersudut<br />
Penyebab : cendawan Pseudomonas lachrymans. Menyebar pada saat musim hujan. Gejala : daun berbercak kecil kuning dan bersudut; pada serangan berat seluruh daun yang berbercak berubah menjadi coklat muda kelabu, mengering dan berlubang. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.</p>
<p>e. Virus<br />
Penyebab : Cucumber Mosaic Virus, CMV, Potato virus mosaic, PVM; Tobacco Etch Virus, TEV; otato Bushy Stunt Virus (TBSV); Serangga vektor adalah kutu daun Myzus persicae Sulz dan Aphis gossypii Glov. Gejala : daun menjadi belang hijau tua dan hijau muda, daun berkerut, tepi daun menggulung, tanaman kerdil. Pengendalian: dengan mengendalikan serangga vektor dengan Natural BVR atau PESTONA, mengurangi kerusakan mekanis, mencabut tanaman sakit dan rotasi dengan famili bukan Cucurbitaceae.</p>
<p>f. Kudis (Scab)<br />
Penyebab : cendawan Cladosporium cucumerinum Ell.et Arth. Terjadi pada buah mentimun muda. Gejala : ada bercak basah yang mengeluarkan cairam yang jika mengering akan seperti karet; bila menyerang buah tua, terbentuk kudis yang bergabus. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.</p>
<p>g. Busuk buah<br />
Penyebab : cendawan (1) Phytium aphinadermatum (Edson) Fizt.; (2) Phytopthora sp., Fusarium sp.; (3) Rhizophus sp., (4) Erwinia carotovora pv. Carotovora. Infeksi terjadi di kebun atau di tempat penyimpanan. Gejala : (1) Phytium aphinadermatum: buah busuk basah dan jika ditekan, buah pecah; (2) Phytopthora: bercak agak basah yang akan menjadi lunak dan berwarna coklat dan berkerut; (3) Rhizophus: bercak agak besah, kulit buah lunak ditumbuhi jamur, buah mudah pecah; (4) Erwinia carotovora: buah membusuk, hancur dan berbau busuk. Pengendalian: dengan menghindari luka mekanis, penanganan pasca panen yang hati-hati, penyimpanan dalam wadah bersih dengan suhu antara 5 &#8211; 7 derajat C. Dan pemberian Natural GLIO sebelum tanam.</p>
<p><strong>3.7. Panen</strong><br />
<strong>3.7.1. Ciri dan Umur Panen</strong><br />
Buah mentimun muda lokal untuk sayuran, asinan atau acar umumnya dipetik 2-3 bulan setelah tanam, mentimun hibrida dipanen 42 hari setelah tanam Mentimun Suri dipanen setelah matang.</p>
<p><strong>3.7.2. Cara Panen</strong><br />
Buah dipanen di pagi hari sebelum jam 9.00 dengan cara memotong tangkai buah dengan pisau tajam.<br />
<strong><br />
3.7.3.Periode Panen</strong><br />
Mentimun sayur dipanen 5 &#8211; 10 hari sekali tergantung dari varitas dan ukuran/umur buah yang dikehendaki.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sila89.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sila89.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sila89.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sila89.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sila89.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sila89.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sila89.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sila89.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sila89.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sila89.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sila89.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sila89.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sila89.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sila89.wordpress.com/342/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sila89.wordpress.com&amp;blog=8664723&amp;post=342&amp;subd=sila89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sila89.wordpress.com/2009/09/14/budidaya-mentimun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a610b0efd361aab89f05e5521e32be80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">De&#039; Sila</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Budidaya Karet</title>
		<link>http://sila89.wordpress.com/2009/09/14/budidaya-karet/</link>
		<comments>http://sila89.wordpress.com/2009/09/14/budidaya-karet/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 11:55:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sila Adnyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sila89.wordpress.com/?p=325</guid>
		<description><![CDATA[I. PENDAHULUAN Tujuan utama pasaran karet (hevea brasiliensis) ndonesia adalah ekspor. Di pasaran internasional (perdagangan bebas) produk karet Indonesia menghadapi persaingan ketat. PT. Natural Nusantara berupaya meningkatkan Kuantitas dan Kualitas produksi, dengan tetap menjaga Kelestarian lingkungan (Aspek K-3). II. SYARAT PERTUMBUHAN - Suhu udara 240C &#8211; 280C. - Curah hujan 1.500-2.000 mm/tahun. - Penyinaran matahari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sila89.wordpress.com&amp;blog=8664723&amp;post=325&amp;subd=sila89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Arial;font-size:85%;"><strong> </strong></span></p>
<div id="attachment_331" class="wp-caption alignleft" style="width: 145px"><strong><strong><a rel="attachment wp-att-331" href="http://sila89.wordpress.com/2009/09/14/budidaya-karet/karet-2/"><img class="size-full wp-image-331" title="KARET" src="http://sila89.files.wordpress.com/2009/09/karet1.jpg?w=500" alt="sila89.wordpress.com"   /></a></strong></strong><p class="wp-caption-text">sila89.wordpress.com</p></div>
<p><strong>I. PENDAHULUAN</strong><br />
Tujuan utama pasaran karet <span style="font-family:Arial;font-size:85%;"><strong><em>(hevea brasiliensis)</em></strong></span><span style="font-family:Arial;font-size:85%;"> ndonesia adalah ekspor. Di pasaran internasional (perdagangan bebas) produk karet Indonesia menghadapi persaingan ketat. PT. Natural Nusantara berupaya meningkatkan Kuantitas dan Kualitas produksi, dengan tetap menjaga Kelestarian lingkungan (Aspek K-3).</span></p>
<p><strong>II. SYARAT PERTUMBUHAN</strong><br />
- Suhu udara 240C &#8211; 280C.<br />
- Curah hujan 1.500-2.000 mm/tahun.<br />
- Penyinaran matahari antara 5-7 jam/hari.<br />
- Kelembaban tinggi<br />
- Kondisi tanah subur, dapat meneruskan air dan tidak berpadas<br />
- Tanah ber-pH 5-6 (batas toleransi 3-8).<br />
- Ketinggian lahan 200 m dpl.</p>
<p><strong>III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA</strong><br />
<strong>3.1. Pembibitan</strong><br />
<em>3.1.1. Persemaian Perkecambahan</em><br />
- Benih disemai di bedengan dengan lebar 1-1,2 m, panjang sesuai tempat.<br />
- Di atas bedengan dihamparkan pasir halus setebal 5-7 cm.<br />
- Tebarkan Natural Glio yang sudah terlebih dulu dikembangbiakkan dalam pupuk kandang + 1 mg.<br />
- Bedengan dinaungi jerami/daun-daun setinggi 1 m di sisi timur dan 80 cm di sisi Barat.<br />
- Benih direndam  POC NASA selama 3-6 jam (1 tutup/liter air).<br />
- Benih disemaikan langsung disiram larutan POC NASA 0,5 tutup/liter air.<br />
- Jarak tanam benih 1-2 cm.<br />
- Siram benih secara teratur, dan benih yang normal akan berkecambah pada 10-14 hss dan selanjutnya dipindahkan ke tempat persemaian bibit.</p>
<p><em>3.1.2. Persemaian Bibit</em><br />
- Tanah dicangkul sedalam 60-75 cm, lalu dihaluskan dan diratakan.<br />
- Buat bedengan  setinggi 20 cm dan parit antar bedengan sedalam 50 cm.<br />
- Benih yang berkecambah ditanam dengan jarak 40x40x60 cm untuk okulasi coklat dan 20x20x60 untuk okulasi hijau.<br />
- Penyiraman dilakukan secara teratur<br />
- Pemupukan :<br />
<strong>PUPUK MAKRO :</strong> (diberikan 3 bulan sekali) GT 1 : 8 gr urea, 4 gr TSP, 2 gr KCl perpohon LCB 1320: 2,5 gr urea, 3 gr TSP, 2 gr KCl perpohon. <strong>POC NASA :</strong> 2-3 cc/lt air perbibit disiramkan 1-2 minggu sekali</p>
<p><em>3.1.3. Pembuatan Kebun Entres</em><br />
- Cara penanaman dan pemeliharaan seperti menanam bibit okulasi.<br />
- Bibit yang digunakan dapat berbentuk bibit stump atau bibit polybag.<br />
- Jarak tanam 1,0 m x 1,0 m.<br />
- Pemupukan :<br />
<strong>PUPUK MAKRO :</strong> (diberikan 3 bulan sekali)<br />
Tahun I : 10 gr urea, 10 gr TSP, 10 gr KCl /pohon<br />
Tahun II : 15 gr urea, 15 gr TSP, 15 gr KCl /pohon</p>
<p><strong>POC NASA :</strong><br />
2-3 cc/lt air perbibit disiramkan 1-2 minggu sekali</p>
<p><em>3.1.4. Okulasi</em><br />
Ada 2 macam okulasi: Okulasi coklat dan okulasi hijau.</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="395">
<tbody>
<tr>
<td width="96" valign="top">
<p align="center">Keterangan</p>
</td>
<td width="136" valign="top">
<p align="center">Okulasi Coklat</p>
</td>
<td width="163" valign="top">
<p align="center">Okulasi Hijau</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="96" valign="top">Umur batang bawah</td>
<td width="136" valign="top">
<p align="center">9-18 bulan</p>
</td>
<td width="163" valign="top">
<p align="center">3-8 bln</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="96" valign="top">Diameter batang 10 cm dari tanah</td>
<td width="136" valign="top">
<p align="center"><span style="text-decoration:underline;">+</span> 2 cm</p>
</td>
<td width="163" valign="top">
<p align="center">1 – 1,5 cm</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="96" valign="top">Kayu okulasi</td>
<td width="136" valign="top">Dari kebun entres, warna hijau tua dan coklat, diameter    1,5 – 3 cm.</td>
<td width="163" valign="top">Dari kebun entres umur 1-3 bln, warna masih hijau atau    telah terbentuk 1-2 payung.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><span style="font-family:Arial;font-size:85%;"><br />
- Teknik Okulasi : (keduanya sama)<br />
- Buat jendela okulasi panjang 5-7 cm, lebar 1-2 cm.<br />
- Persiapkan mata okulasi<br />
- Pisahkan kayu dari kulit (perisai)<br />
- Masukkan perisai ke dalam jendela<br />
- Membalut, gunakan pita plastik/rafia tebal 0,04 mm<br />
- Setelah 3 minggu, balut dibuka, jika pesriasi digores sedikit masih hijau segar, maka okulasi berhasil. Diulangi 1-2 minggu kemudian.<br />
- Bila bibit akan dipindahkan potonglah miring batang bawah + 10 cm di atas okulasi.<br />
- Bibit okulasi yang dipindahkan dapat berbentuk stum mata tidur, stum tinggi, stum mini, dan bibit polybag.</span></p>
<p><em>3.2. Pengolahan Media Tanam</em><br />
a. Tanah  dibongkar  dengan  cangkul / traktor, dan bersihkan dari sisa akar.<br />
b. Pembuatan teras untuk tanah dengan kemiringan &gt; 10 derajat. Lebar teras minimal 1,5 dengan jarak antar teras tergantung dari jarak tanam.<br />
c. Pembuatan rorak (kotak kayu panjang) pada tanah landai. Rorak berguna untuk menampung tanah yang tererosi. Jika sudah penuh isi rorak dituangkan ke areal di sebelah atas rorak.<br />
e. Pembuatan saluran penguras dan saluran pinggiran jalan yang sesuai dengan kemiringan lahan dan diperkeras.</p>
<p><strong>3.3. Teknik Penanaman</strong><br />
<em>3.3.1. Penentuan Pola Tanaman</em><br />
0-3 th tumpangsari dengan padi gogo, jagung, kedele<br />
&gt; 3 th tumpangsari dengan jahe atau kapulogo<br />
3.3.2. Pembuatan Lubang Tanam<br />
Jarak tanam 7 x 3 m (476 bibit/ha)<br />
Lubang tanam :<br />
- okulasi stump mini 60 x 60 x 60 cm<br />
- okulasi stump tinggi 80 x 80 x 80 cm</p>
<p><em>3.3.3. Cara Penanaman</em><br />
- Masukkan bibit dan plastiknya dalam lubang tanah dan biarkan 2-3 minggu.<br />
- Buka kantong plastik, tebarkan NATURAL GLIO yang telah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang + 1 minggu dan segera timbun dengan tanah galian<br />
- Siramkan POC NASA yang telah dicampur air secara merata (1 tutup/lt air perpohon). Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA. Caranya : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon.</p>
<p><strong>3.4. Pemeliharaan Tanaman</strong><br />
<em>a. Penyulaman</em><br />
Dilakukan saat tanaman berumur 1-2 tahun.<br />
b. Pemupukan</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="60" valign="top">
<p align="center"><strong>UMUR</strong><br />
<strong>( bulan )</strong></td>
<td colspan="4" width="312" valign="top">
<p align="center"><strong>Dosis pupuk    Makro (per ha)</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="45" valign="top">
<p align="center"><strong>Urea</strong><br />
<strong>( kg )</strong></td>
<td width="80" valign="top">
<p align="center"><strong>Rock Phospat/</strong><br />
<strong>( kg )</strong></td>
<td width="58" valign="top">
<p align="center"><strong>MOP/ KCl</strong><br />
<strong>( kg )</strong></td>
<td width="128" valign="top">
<p align="center"><strong>Kieserite</strong><br />
<strong>(MgSO4)</strong><br />
<strong>( kg )</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">0</p>
</td>
<td width="45" valign="top">
<p align="center">0</p>
</td>
<td width="80" valign="top">
<p align="center">150</p>
</td>
<td width="58" valign="top">
<p align="center">0</p>
</td>
<td width="128" valign="top">
<p align="center">0</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">3</p>
</td>
<td width="45" valign="top">
<p align="center">60</p>
</td>
<td width="80" valign="top">
<p align="center">115</p>
</td>
<td width="58" valign="top">
<p align="center">40</p>
</td>
<td width="128" valign="top">
<p align="center">40</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">8</p>
</td>
<td width="45" valign="top">
<p align="center">60</p>
</td>
<td width="80" valign="top">
<p align="center">115</p>
</td>
<td width="58" valign="top">
<p align="center">40</p>
</td>
<td width="128" valign="top">
<p align="center">40</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">12</p>
</td>
<td width="45" valign="top">
<p align="center">75</p>
</td>
<td width="80" valign="top">
<p align="center">135</p>
</td>
<td width="58" valign="top">
<p align="center">50</p>
</td>
<td width="128" valign="top">
<p align="center">40</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">18</p>
</td>
<td width="45" valign="top">
<p align="center">75</p>
</td>
<td width="80" valign="top">
<p align="center">135</p>
</td>
<td width="58" valign="top">
<p align="center">50</p>
</td>
<td width="128" valign="top">
<p align="center">40</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">24</p>
</td>
<td width="45" valign="top">
<p align="center">115</p>
</td>
<td width="80" valign="top">
<p align="center">300</p>
</td>
<td width="58" valign="top">
<p align="center">115</p>
</td>
<td width="128" valign="top">
<p align="center">75</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">36</p>
</td>
<td width="45" valign="top">
<p align="center">210</p>
</td>
<td width="80" valign="top">
<p align="center">300</p>
</td>
<td width="58" valign="top">
<p align="center">115</p>
</td>
<td width="128" valign="top">
<p align="center">75</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">48</p>
</td>
<td width="45" valign="top">
<p align="center">235</p>
</td>
<td width="80" valign="top">
<p align="center">300</p>
</td>
<td width="58" valign="top">
<p align="center">115</p>
</td>
<td width="128" valign="top">
<p align="center">75</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">dst</p>
</td>
<td colspan="4" width="312" valign="top">sebaiknya dilakukan analisa tanah</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">
</td>
<td colspan="4" width="312" valign="top">
<p align="center"><strong>Dosis POC NASA    mulai awal tanam  :</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">0 &#8211; 36</p>
</td>
<td colspan="4" width="312" valign="top">2-3 tutup/ diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal    batang<br />
setiap 4 &#8211; 5 bulan sekali</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">&gt; 36</p>
</td>
<td colspan="4" width="312" valign="top">3-4 tutup/ diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar    pangkal batang<br />
setiap 3 – 4 bulan sekali</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="5" width="372" valign="top">
<p align="center"><strong>Dosis POC NASA    pada tanaman yang sudah produksi tetapi tidak     dari awal memakai POC NASA :</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="5" width="372" valign="top">
<ol>
<li><strong>Tahap 1</strong> : Aplikasikan 3 – 4 kali berturut-turut dengan interval 1-2 bln. Dosis 3-4    tutup/ pohon</li>
<li><strong>Tahap 2</strong> : Aplikasikan setiap 3-4 bulan sekali.     Dosis 3-4 tutup/ pohon</li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Catatan: Akan Lebih baik pemberian diselingi/ditambah SUPER NASA 1-2 kali/tahun dengan dosis 1 botol untuk + 300 tanaman. Cara lihat Teknik Penanaman (Point 3.3.3.)</p>
<p><strong>3.5. Hama dan Penyakit</strong><br />
<strong>3.5.1. Hama</strong><br />
a. Kutu tanaman (Planococcus citri)<br />
Gejala: merusak tanaman dengan mengisap cairan dari pucuk batang dan daun muda. Bagian tanaman yang diisap menjadi kuning dan kering. Pengendalian: Menggunakan BVR atau Pestona.<br />
b. Tungau (Hemitarsonemus , Paratetranychus)<br />
Gejala; mengisap cairan daun muda, daun tua, pucuk, sehingga tidak normal dan kerdil, daun berguguran. Pengendalian: Menggunakan BVR atau Pestona</p>
<p><strong>3.5.2. Penyakit </strong><br />
Penyakit yang menyerang bagian akar, batang, daun dan bidang sadap, sebagian besar disebabkan oleh jamur. Penyakit tersebut antara lain :<br />
a. Penyakit pada akar : Akar putih (Jamur Rigidoporus lignosus), Akar merah (Jamur Ganoderma pseudoferrum), Jamur upas (Jamur Corticium salmonicolor),<br />
b. Penyakit pada batang :Kanker bercak (Jamur Phytophthora palmivora), Busuk pangkal batang (Jamur Botrydiplodia theobromae),<br />
c. Penyakit pada bidang sadap : Kanker garis (Jamur Phytophthora palmivora), Mouldy rot (Jamur Ceratocystis fimbriata)<br />
d. Penyakit pada Daun : Embun tepung (jamur Oidium heveae), Penyakit colletorichum (Jamur Coletotrichum gloeosporoides), Penyakit Phytophthora (Jamur Phytophthora botriosa)</p>
<p><strong>Pengendalian dan Pencegahan Penyakit karena jamur: </strong><br />
- Menanam bibit sehat dan dari klon resisten<br />
- Pemupukan lengkap dan seimbang ( makro &#8211; mikro) dengan jenis pupuk, dosis dan waktu yang tepat<br />
- Taburkan Natural Glio sebelum atau pada saat tanam sanitasi kebun<br />
- Pemangkasan tanaman penutup yang terlalu lebat<br />
- Bagian yang terserang segera dimusnahkan<br />
- Penyadapan tidak terlalu dalam dan tidak terlalu dekat tanah<br />
- Pisau sadap steril<br />
- Khusus penyakit embun tepung, daun digugurkan lebih awal dan segera dipupuk nitrogen dengan dosis dua kali lipat dan semprot POC NASA 3-5 tutup/tangki.<br />
<strong>Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki. Penyemprotan herbisida (untuk gulma) agar lebih efektif dan efisien dapat di campur Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki . </strong></p>
<p><strong>3.6. Panen</strong><br />
Penyadapan pada umur + 5 tahun, dan dapat dilakukan selama 25-35 tahun.<br />
Pemakaian POC NASA, HORMONIK dan SUPERNASA secara teratur akan mempercepat waktu penyadapan pertama kali dan memperlama usia produksi tanaman.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sila89.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sila89.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sila89.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sila89.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sila89.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sila89.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sila89.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sila89.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sila89.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sila89.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sila89.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sila89.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sila89.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sila89.wordpress.com/325/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sila89.wordpress.com&amp;blog=8664723&amp;post=325&amp;subd=sila89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sila89.wordpress.com/2009/09/14/budidaya-karet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a610b0efd361aab89f05e5521e32be80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">De&#039; Sila</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sila89.files.wordpress.com/2009/09/karet1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">KARET</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Budidaya Kelapa Sawit</title>
		<link>http://sila89.wordpress.com/2009/09/14/budidaya-kelapa-sawit/</link>
		<comments>http://sila89.wordpress.com/2009/09/14/budidaya-kelapa-sawit/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 11:54:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sila Adnyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sila89.wordpress.com/?p=322</guid>
		<description><![CDATA[I. PENDAHULUAN Agribisnis kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.), baik yang berorientasi pasar lokal maupun global akan berhadapan dengan tuntutan kualitas produk dan kelestarian lingkungan selain tentunya kuantitas produksi. PT. Natural Nusantara berusaha berperan dalam peningkatan produksi budidaya kelapa sawit secara Kuantitas, Kualitas dan tetap menjaga Kelestarian lingkungan (Aspek K-3). II. SYARAT PERTUMBUHAN 2.1. Iklim Lama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sila89.wordpress.com&amp;blog=8664723&amp;post=322&amp;subd=sila89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Arial;font-size:85%;"><strong>I. PENDAHULUAN</strong><br />
Agribisnis kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.), baik yang berorientasi pasar lokal maupun global akan berhadapan dengan tuntutan kualitas produk dan kelestarian lingkungan selain tentunya kuantitas produksi. PT. Natural Nusantara berusaha berperan dalam peningkatan produksi budidaya kelapa sawit secara Kuantitas, Kualitas dan tetap menjaga Kelestarian lingkungan (Aspek K-3).</span></p>
<p><strong>II. SYARAT PERTUMBUHAN</strong><br />
<strong>2.1. Iklim</strong><br />
Lama penyinaran matahari rata-rata 5-7 jam/hari. Curah hujan tahunan 1.500-4.000 mm. Temperatur optimal 24-280C. Ketinggian tempat yang ideal antara 1-500 m dpl. Kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu proses penyerbukan.<br />
<strong>2.2. Media Tanam</strong><br />
Tanah yang baik mengandung banyak lempung, beraerasi baik dan subur. Berdrainase baik, permukaan air tanah cukup dalam, solum cukup dalam (80 cm), pH tanah 4-6, dan tanah tidak berbatu. Tanah Latosol, Ultisol dan Aluvial, tanah gambut saprik, dataran pantai dan muara sungai dapat dijadikan perkebunan kelapa sawit.</p>
<p><strong>III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA</strong><br />
<strong>3.1. Pembibitan<br />
<em>3.1.1. Penyemaian</em></strong><br />
Kecambah dimasukkan polibag 12&#215;23 atau 15&#215;23 cm berisi 1,5-2,0 kg tanah lapisan atas yang telah diayak. Kecambah ditanam sedalam 2 cm. Tanah di polibag harus selalu lembab. Simpan polibag di bedengan dengan diameter 120 cm. Setelah berumur 3-4 bulan dan berdaun 4-5 helai bibit dipindahtanamkan.<br />
Bibit dari dederan dipindahkan ke dalam polibag 40&#215;50 cm setebal 0,11 mm yang berisi 15-30 kg tanah lapisan atas yang diayak. Sebelum bibit ditanam, siram tanah dengan POC NASA 5 ml atau 0,5 tutup per liter air. Polibag diatur dalam posisi segitiga sama sisi dengan jarak 90&#215;90 cm.</p>
<p><em><strong>3.1.2. Pemeliharaan Pembibitan</strong></em><br />
Penyiraman dilakukan dua kali sehari. Penyiangan 2-3 kali sebulan atau disesuaikan dengan pertumbuhan gulma. Bibit tidak normal, berpenyakit dan mempunyai kelainan genetis harus dibuang. Seleksi dilakukan pada umur 4 dan 9 bulan.<br />
Pemupukan pada saat pembibitan sebagai berikut :</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<col width="97"></col>
<col width="262"></col>
<tbody>
<tr>
<td colspan="2" width="359" height="20">
<div>Pupuk    Makro</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="60">&gt; 15-15-6-4</td>
<td width="262">Minggu    ke 2 &amp; 3 (2 gram); minggu ke 4 &amp; 5 (4gr); minggu ke 6 &amp; 8 (6gr);    minggu ke 10 &amp; 12 (8gr)</td>
</tr>
<tr>
<td height="80">&gt;    12-12-17-2</td>
<td width="262">Mingu ke 14, 15, 16 &amp; 20 (8 gr); Minggu ke 22, 24, 26 &amp; 28 (12gr), minggu ke 30, 32, 34 &amp; 36 (17gr), minggu ke 38 &amp; 40 (20gr).</td>
</tr>
<tr>
<td height="40">&gt;    12-12-17-2</td>
<td width="262">Minggu    ke 19 &amp; 21 (4gr); minggu ke 23 &amp; 25 (6gr); minggu ke 27, 29 &amp; 31    (8gr)</td>
</tr>
<tr>
<td height="40">&gt; POC NASA</td>
<td width="262">Mulai    minggu ke 1 – 40 (1-2cc/lt air perbibit disiramkan 1-2 minggu sekali).</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><span style="font-family:Arial;font-size:85%;"><br />
Catatan : Akan Lebih baik pembibitan diselingi/ditambah SUPER NASA 1-3 kali dengan dosis 1 botol untuk + 400 bibit. 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 4 liter (4000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman</span></p>
<p><strong>3.2. Teknik Penanaman</strong><br />
<em><strong>3.2.1. Penentuan Pola Tanaman</strong></em><br />
Pola tanam dapat monokultur ataupun tumpangsari. Tanaman penutup tanah (legume cover crop LCC) pada areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia dan biologi tanah, mencegah erosi, mempertahankan kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan tanaman pengganggu (gulma). Penanaman tanaman kacang-kacangan sebaiknya dilaksanakan segera setelah persiapan lahan selesai.</p>
<p><em><strong>3.2.2. Pembuatan Lubang Tanam</strong></em><br />
Lubang tanam dibuat beberapa hari sebelum tanam dengan ukuran 50&#215;40 cm sedalam 40 cm. Sisa galian tanah atas (20 cm) dipisahkan dari tanah bawah. Jarak 9x9x9 m. Areal berbukit, dibuat teras melingkari bukit dan lubang berjarak 1,5 m dari sisi lereng.</p>
<p><em><strong>3.2.3. Cara Penanaman</strong></em><br />
Penanaman pada awal musim hujan, setelah hujan turun dengan teratur. Sehari sebelum tanam, siram bibit pada polibag. Lepaskan plastik polybag hati-hati dan masukkan bibit ke dalam lubang. Taburkan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang selama + 1 minggu di sekitar perakaran tanaman. Segera ditimbun dengan galian tanah atas. Siramkan POC NASA secara merata dengan dosis ± 5-10 ml/ liter air setiap pohon atau semprot (dosis 3-4 tutup/tangki). Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA. Adapun cara penggunaan SUPER NASA adalah sebagai berikut: 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon.</p>
<p><strong>3.3. Pemeliharaan Tanaman</strong><br />
<em><strong>3.3.1. Penyulaman dan Penjarangan</strong></em><br />
Tanaman mati disulam dengan bibit berumur 10-14 bulan. Populasi 1 hektar + 135-145 pohon agar tidak ada persaingan sinar matahari.</p>
<p><em><strong>3.3.2. Penyiangan</strong></em><br />
Tanah di sekitar pohon  harus bersih dari gulma.</p>
<p><em><strong>3.3.3. Pemupukan</strong></em><br />
Anjuran pemupukan sebagai berikut :</p>
<p>Pupuk Makro</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="78" valign="top"><strong>Urea </strong></td>
<td width="210" valign="top">
<ol>
<li>Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 &amp; 36</li>
<li>Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst</li>
</ol>
</td>
<td width="84" valign="top">225 kg/ha<br />
1000 kg/ha</td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"><strong>TSP</strong></td>
<td width="210" valign="top">
<ol>
<li>Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 &amp; 36</li>
<li>Bulan ke 48 &amp; 60</li>
</ol>
</td>
<td width="84" valign="top">115 kg/ha<br />
750 kg/ha</td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"><strong>MOP/KCl</strong></td>
<td width="210" valign="top">
<ol>
<li>Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 &amp; 36</li>
<li>Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst</li>
</ol>
</td>
<td width="84" valign="top">200 kg/ha<br />
1200 kg/ha</td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"><strong>Kieserite</strong></td>
<td width="210" valign="top">
<ol>
<li>Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 &amp; 36</li>
<li>Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst</li>
</ol>
</td>
<td width="84" valign="top">75 kg/ha<br />
600 kg/ha</td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"><strong>Borax</strong></td>
<td width="210" valign="top">
<ol>
<li>Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 &amp; 36</li>
<li>Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst</li>
</ol>
</td>
<td width="84" valign="top">20 kg/ha<br />
40 kg/ha</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>NB. : Pemberian pupuk pertama sebaiknya pada awal musim hujan (September &#8211; Oktober) dan kedua di akhir musim hujan (Maret- April).</em></p>
<p><em> </em> POC NASA<br />
a. Dosis POC NASA mulai awal tanam  :</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center"><strong>0-36    bln</strong></p>
</td>
<td width="312" valign="top">2-3 tutup/ diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar    pangkal batang, setiap 4 &#8211; 5 bulan sekali</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center"><strong>&gt;36    bln</strong></p>
</td>
<td width="312" valign="top">3-4 tutup/ diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar    pangkal batang, setiap 3 – 4 bulan   sekali</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>b. Dosis POC NASA pada tanaman yang sudah produksi tetapi tidak  dari awal memakai POC NASA<br />
Tahap 1 : Aplikasikan 3 &#8211; 4 kali berturut-turut dengan interval 1-2 bln. Dosis 3-4 tutup/ pohon<br />
Tahap 2 : Aplikasikan setiap 3-4 bulan sekali. Dosis 3-4 tutup/ pohon<br />
Catatan: Akan Lebih baik pemberian diselingi/ditambah SUPER NASA 1-2 kali/tahun dengan dosis 1 botol untuk + 200 tanaman. Cara lihat Teknik Penanaman (Point 3.2.3.)</p>
<p><em><strong>3.3.4. Pemangkasan Daun</strong></em><br />
Terdapat tiga jenis pemangkasan yaitu:<br />
a. Pemangkasan pasir<br />
Membuang daun kering, buah pertama atau buah busuk waktu tanaman berumur 16-20 bulan.<br />
b. Pemangkasan produksi<br />
Memotong daun yang tumbuhnya saling menumpuk (songgo dua) untuk persiapan panen  umur 20-28 bulan.<br />
c. Pemangkasan pemeliharaan<br />
Membuang daun-daun songgo dua secara rutin sehingga pada pokok tanaman hanya terdapat sejumlah 28-54 helai.</p>
<p><em><strong>3.3.5. Kastrasi Bunga</strong></em><br />
Memotong bunga-bunga jantan dan betina yang tumbuh pada waktu tanaman berumur 12-20 bulan.</p>
<p><em><strong>3.3.6. Penyerbukan Buatan</strong></em><br />
Untuk mengoptimalkan jumlah tandan yang berbuah, dibantu penyerbukan buatan oleh manusia atau  serangga.<br />
a. Penyerbukan oleh manusia<br />
Dilakukan saat tanaman berumur 2-7 minggu pada bunga betina yang sedang represif (bunga betina siap untuk diserbuki oleh serbuk sari jantan). Ciri bunga represif adalah kepala putik terbuka, warna kepala putik kemerah-merahan dan berlendir.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Cara penyerbukan</span>:<br />
1. Bak seludang bunga.<br />
2. Campurkan serbuk sari dengan talk murni ( 1:2 ). Serbuk sari diambil dari pohon yang baik dan biasanya sudah dipersiapkan di laboratorium, semprotkan serbuk sari pada kepala putik dengan menggunakan baby duster/puffer.<br />
b. Penyerbukan oleh Serangga Penyerbuk Kelapa Sawit<br />
Serangga penyerbuk Elaeidobius camerunicus tertarik pada bau bunga jantan. Serangga dilepas saat bunga betina sedang represif. Keunggulan cara ini adalah tandan buah lebih besar, bentuk buah lebih sempurna, produksi minyak lebih besar 15% dan produksi inti (minyak inti) meningkat sampai 30%.</p>
<p><strong>3.4. Hama dan Penyakit</strong><br />
<em><strong>3.4.1. Hama</strong></em><br />
a. Hama Tungau<br />
Penyebab: tungau merah (Oligonychus). Bagian diserang adalah daun. Gejala: daun menjadi mengkilap dan berwarna bronz. Pengendalian: Semprot Pestona atau Natural BVR.</p>
<p>b. Ulat Setora<br />
Penyebab: Setora nitens. Bagian yang diserang adalah daun. Gejala: daun dimakan sehingga tersisa lidinya saja. Pengendalian: Penyemprotan dengan Pestona.</p>
<p>3.4.2. Penyakit<br />
a. Root Blast<br />
Penyebab: Rhizoctonia lamellifera dan Phythium Sp. Bagian diserang akar. Gejala: bibit di persemaian mati mendadak, tanaman dewasa layu dan mati, terjadi pembusukan akar. Pengendalian: pembuatan persemaian yang baik, pemberian air irigasi di musim kemarau, penggunaan bibit berumur lebih dari 11 bulan. Pencegahan dengan pengunaan Natural GLIO.</p>
<p>b. Garis Kuning<br />
Penyebab: Fusarium oxysporum. Bagian diserang daun. Gejala: bulatan oval berwarna kuning pucat mengelilingi warna coklat pada daun, daun mengering. Pengendalian: inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda. Pencegahan dengan pengunaan Natural GLIO semenjak awal.</p>
<p>c. Dry Basal Rot<br />
Penyebab: Ceratocyctis paradoxa. Bagian diserang batang. Gejala: pelepah mudah patah, daun membusuk dan kering; daun muda mati dan kering. Pengendalian: adalah dengan menanam bibit yang telah diinokulasi penyakit.<br />
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki. Penyemprotan herbisida (untuk gulma) agar lebih efektif dan efisien dapat di campur Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki .</p>
<p><strong>3.5. Panen</strong><br />
<em><strong>3.5.1. Umur Panen</strong></em><br />
Mulai berbuah setelah 2,5 tahun dan masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Dapat dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah matang panen, dari 5 pohon terdapat 1 tandan buah matang panen. Ciri tandan matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sila89.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sila89.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sila89.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sila89.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sila89.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sila89.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sila89.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sila89.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sila89.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sila89.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sila89.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sila89.wordpress.com/322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sila89.wordpress.com/322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sila89.wordpress.com/322/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sila89.wordpress.com&amp;blog=8664723&amp;post=322&amp;subd=sila89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sila89.wordpress.com/2009/09/14/budidaya-kelapa-sawit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a610b0efd361aab89f05e5521e32be80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">De&#039; Sila</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Budidaya Kobis</title>
		<link>http://sila89.wordpress.com/2009/09/14/budidaya-kobis/</link>
		<comments>http://sila89.wordpress.com/2009/09/14/budidaya-kobis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 11:51:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sila Adnyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budidaya Tanaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sila89.wordpress.com/?p=318</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN Sampai saat ini, tingkat produksi tanaman kubis baik secara kuantitas maupun kualitas masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan antara lain karena tanah sudah miskin unsur hara, pemupukan yang tidak berimbang, organisme pengganggu tanaman, cuaca dan iklim. Untuk itu, PT. Natural Nusantara sebagai perusahaan yang peduli terhadap permasalahan pertanian dan kelestarian lingkungan berupaya membantu petani [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sila89.wordpress.com&amp;blog=8664723&amp;post=318&amp;subd=sila89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Arial;font-size:85%;"><strong>PENDAHULUAN</strong><br />
Sampai saat ini, tingkat produksi tanaman kubis baik secara kuantitas maupun kualitas masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan antara lain karena tanah sudah miskin unsur hara, pemupukan yang tidak berimbang, organisme pengganggu tanaman, cuaca dan iklim.<br />
Untuk itu, PT. Natural Nusantara sebagai perusahaan yang peduli terhadap permasalahan pertanian dan kelestarian lingkungan berupaya membantu petani dalam peningkatan produksi secara kuantitas dan kualitas serta memelihara kelestarian lingkungan (3 &#8211; K). Sehingga petani mampu bersaing di era pasar bebas.</span></p>
<p><strong>FASE PRA TANAM</strong><br />
<em><strong>1.  Syarat tumbuh</strong></em><br />
- Tanaman dapat ditanam sepanjang tahun<br />
- Tumbuh dan berproduksi dengan baik pada ketinggian 800 m d.pl. ke atas, curah hujan hujan cukup dan temperatur udara 15o &#8211; 20o C.<br />
- Jenis tanah yang dikehendaki gembur, bertekstur ringan atau sarang serta pH 6 &#8211; 6,5.</p>
<p><em><strong>2. Pengelolaan Tanah dan Air</strong></em><br />
- Bersihkan gulma dan sisa-sisa tanaman untuk menekan serangan penyakit terbawa tanah seperti akar bengkak, busuk lunak, rebah semai, dll. dengan cara dicabut dan dikumpulkan lalu dibakar atau bisa dijadikan kompos<br />
- Jangan menanam tanaman kubis-kubisan secara terus menerus dan lakukan pergiliran tanaman<br />
- Gunakan pupuk organik (SUPER NASA), khususnya di musim kemarau untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air</p>
<p><em><strong>3.  Persiapan Lahan</strong></em><br />
- Lahan dicangkul dan dibajak sedalam 20-30 cm<br />
- Berikan Dolomit atau CAPTAN kira-kira 2 ton/ha jika pH &lt; 5,5 dengan cara tanah dan kapur diaduk rata dan dibiarkan 2 minggu<br />
- Siramkan pupuk SUPER NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis ± 1 botol/1000 m² dengan cara :<br />
Alternatif 1 : 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.<br />
Alternatif 2 : setiap 1 gembor volume 10 lt diberi 1 peres sendok makan SUPERNASA untuk menyiram 5 &#8211; 10 meter bedengan.<br />
- Jika tersedia pupuk kandang dapat diberikan  kira-kira 0,25  &#8211;  0,5 kg per lubang tanam</p>
<p><strong>FASE PERSEMAIAN</strong><br />
- Media persemaian terdiri dari campuran tanah dan pupuk kandang (kompos) halus dengan perbandingan 1:1 dan ditambah 100 gr (1 sachet)- &#8211; - Natural GLIO untuk 25 kg pupuk kandang<br />
- Benih direndam dalam air hangat + POC NASA  dosis 2 cc/lt air selama 0,5 &#8211; 1 jam lalu diangin-anginkan<br />
- Sebarkan benih secara merata dan teratur lalu ditutup daun pisang selama 3-4 hari<br />
- Semprotkan POC NASA seminggu sekali dengan dosis 3 tutup/tangki<br />
- Lakukan penyiraman setiap hari dengan gembor<br />
- Persemaian dibuka setiap pagi sampai jam 10.00 dan sore mulai pukul 15.00<br />
- Amati bibit kubis yang terserang penyakit tepung berbulu (Peronospora parasitica) atau ulat daun pada daun pertama, dipetik dan dibuang daun yang terserang</p>
<p><strong>FASE TANAM</strong><br />
<em><strong>1. Jarak tanam</strong></em><br />
Jarak tanam jarang 70 x 50 cm atau jarak tanam rapat 60 x 50 cm</p>
<p><em><strong>2. Bibit</strong></em><br />
Bibit yang telah berumur 3 &#8211; 4 minggu memiliki 4 &#8211; 5 daun siap ditanam</p>
<p><em><strong>3. Pemupukan</strong></em><br />
Pupuk dasar diberikan sehari sebelum tanam dengan dosis 250 kg/ha TSP, 50 kg/ha Urea, 175 kg/ha ZA dan 100 kg/ha KCl.<br />
Pupuk dasar dicampur secara merata lalu diberikan pada lubang tanam yang telah diberi pupuk kandang, kemudian ditutup kembali dengan tanah.</p>
<p><em><strong>4. Cara tanam</strong></em><br />
- Buat lubang tanam dengan tugal sesuai jarak tanam<br />
- Pilih bibit yang segar dan sehat<br />
- Tanam bibit pada lubang tanam<br />
- Bila bibit disemai pada bumbung daun pisang langsung ditanam bersama bumbungnya<br />
- Bila bibit disemai pada polybag plastik, keuarkan bibit dari polibag lalu baru ditanam<br />
- Bila disemai dalam bedengan ambil bibit beserta tanahnya sekitar 2-3 cm dari batang sedalam 5 cm dengan solet (sistem putaran)<br />
- Setelah ditanam, siram bibit dengan air sampai basah<br />
- Kubis dapat ditumpangsarikan dengan tomat dengan cara tanam : 2 baris kubis 1 baris tomat. Tomat ditanam 3 atau 4 minggu sebelum kubis</p>
<p><strong>FASE PRA PEMBENTUKAN KROP (0 &#8211; 49 HARI )</strong><br />
- Penyiraman dilakukan tiap hari pada pagi atau sore hari<br />
- Pemupukan susulan dilakukan pada umur 28 hari dengan dosis 50 kg/ha Urea, 175 kg/ha ZA dan 100 kg/ha KCl<br />
- Penyemprotan POC NASA 3 &#8211; 4 tutup/tangki ditambah HORMONIK 1-2 tutup/tangki dilakukan setiap 1  minggu sekali.<br />
- Penyiangan (penggemburan dan pembubunan tanah) dilakukan pada umur 2 dan 4 minggu<br />
- Perempelan cabang atau tunas-tunas samping dilakukan seawal mungkin supaya pembentukan bunga optimal<br />
- Hama yang menyerang pada fase ini antara lain Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn.), Ulat daun kubis (Plutella xylostella L.), Ulat krop kubis (Crocidolomia binotalis Zell.), Ulat krop bergaris (Hellula undalis F.)<br />
- Lakukan pengamatan tiap minggu sekali terhadap hama-hama tersebut mulai kubis umur 13 hari. Populasi tertinggi terjadi pada awal musim kemarau<br />
- Cara pengendalian; kumpulkan dan musnah secara mekanik, sanitasi lingkungan.<br />
- Tanaman muda yang mati karena penyakit rebah kecambah (Rhizoctonia solani Kuhn.) dicabut, kemudian disulam dengan tanaman baru yang sehat, tambahkan Natural GLIO pada lubang tanam.</p>
<p><strong>FASE PEMBENTUKAN CROP ( 50 &#8211; 90 HARI )</strong><br />
- Penyiangan secara manual dengan tangan perlu dilakukan sampai kira-kira satu minggu sebelum panen<br />
- Lakukan pengamatan lebih intensif terhadap hama yang merusak berat pada fase ini yaitu; Ulat Daun Kubis (P. xylostella) dan Ulat krop kubis (C. binotalis), biasanya Pebruari Maret<br />
- Serangan hama menjelang panen tidak perlu dikendalikan (secara kimia)</p>
<p><strong>PANEN DAN PASCA PANEN</strong><br />
- Kubis dipanen setelah berumur 81- 105 hari<br />
- Ciri-ciri kubis siap panen bila tepi daun krop terluar pada bagian atas krop sudah melengkung ke luar dan berwarna agak ungu, krop bagian dalam sudah padat.<br />
- Pada saat panen diikursertakan dua helai daun hijau untuk melindungi krop<br />
- Jangan sampai terjadi memar atau luka<br />
- Amati penyakit Busuk Lunak (Erwinia carotovora) dan Busuk Hitam (Xanthomonas camprestris)<br />
- Daun-daun kubis yang terinfeksi harus dibuang.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sila89.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sila89.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sila89.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sila89.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sila89.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sila89.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sila89.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sila89.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sila89.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sila89.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sila89.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sila89.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sila89.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sila89.wordpress.com/318/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sila89.wordpress.com&amp;blog=8664723&amp;post=318&amp;subd=sila89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sila89.wordpress.com/2009/09/14/budidaya-kobis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a610b0efd361aab89f05e5521e32be80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">De&#039; Sila</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Budidaya Kentang</title>
		<link>http://sila89.wordpress.com/2009/09/10/budidaya-kentang/</link>
		<comments>http://sila89.wordpress.com/2009/09/10/budidaya-kentang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 14:41:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sila Adnyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budidaya Tanaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sila89.wordpress.com/?p=310</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN Kentang (Solanum tuberosum L) merupakan sumber utama karbohidrat, sehingga menjadi komoditi penting. PT. NATURAL NUSANTARA berupaya meningkatkan produksi kentang nasional secara kuantitas, kualitas dan tetap berdasarkan kelestarian lingkungan (Aspek 3K). SYARAT PERTUMBUHAN 2.1. Iklim Curah hujan rata-rata 1500 mm/tahun, lama penyinaran 9-10 jam/hari, suhu optimal 18-21 °C, kelembaban 80-90% dan ketinggian antara 1.000-3.000 m [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sila89.wordpress.com&amp;blog=8664723&amp;post=310&amp;subd=sila89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Arial;font-size:85%;"><strong></p>
<div id="attachment_311" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><strong><a rel="attachment wp-att-311" href="http://sila89.wordpress.com/2009/09/10/budidaya-kentang/kentang/"><img class="size-full wp-image-311" title="KENTANG" src="http://sila89.files.wordpress.com/2009/09/kentang.jpg?w=500" alt="sila89.wordpress.com"   /></a></strong><p class="wp-caption-text">sila89.wordpress.com</p></div>
<p>PENDAHULUAN</strong><br />
Kentang (Solanum tuberosum L) merupakan sumber utama karbohidrat, sehingga menjadi komoditi penting. PT. NATURAL NUSANTARA berupaya meningkatkan produksi kentang nasional secara kuantitas, kualitas dan tetap berdasarkan kelestarian lingkungan (Aspek 3K).</p>
<p><strong>SYARAT PERTUMBUHAN</strong><br />
<em>2.1. Iklim</em><br />
Curah hujan rata-rata 1500 mm/tahun, lama penyinaran 9-10 jam/hari, suhu optimal 18-21 °C, kelembaban 80-90% dan ketinggian antara 1.000-3.000 m dpl.</p>
<p><em>2.2. Media Tanam</em><br />
Struktur remah, gembur, banyak mengandung bahan organik, berdrainase baik dan memiliki lapisan olah yang dalam dan pH antara 5,8-7,0.</p>
<p><strong>PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA</strong><br />
<em>3.1. Pembibitan</em><br />
- Umbi bibit berasal dari umbi produksi berbobot 30-50 gram, umur 150-180 hari, tidak cacat, dan varitas unggul. Pilih umbi berukuran sedang, memiliki 3-5 mata tunas dan hanya sampai generasi keempat saja. Setelah tunas + 2 cm, siap ditanam.<br />
- Bila bibit membeli (usahakan bibit yang bersertifikat), berat antara 30-45 gram dengan 3-5 mata tunas. Penanaman dapat dilakukan tanpa/dengan pembelahan. Pemotongan umbi dilakukan menjadi 2-4 potong menurut mata tunas yang ada. Sebelum tanam umbi direndam dulu menggunakan POC NASA selama 1-3 jam (2-4 cc/lt air).</p>
<p><em>3.2. Pengolahan Media Tanam</em><br />
Lahan dibajak sedalam 30-40 cm dan biarkan selama 2 minggu sebelum dibuat bedengan dengan lebar 70 cm (1 jalur tanaman)/140 cm (2 jalur tanaman), tinggi 30 cm dan buat saluran pembuangan air sedalam 50 cm dan lebar 50 cm.<br />
Natural Glio yang sudah terlebih dahulu dikembangbiakkan dalam pupuk kandang + 1 minggu, ditebarkan merata pada bedengan (dosis : 1-2 kemasan Natural Glio dicampur 50-100 kg pupuk kandang/1000 m2).</p>
<p><strong>3.3. Teknik Penanaman</strong><br />
<em>3.3.1. Pemupukan Dasar</em><br />
a. Pupuk anorganik berupa urea (200 kg/ha), SP 36 (200 kg/ha), dan KCl (75 kg/ha).<br />
b. Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secukupnya secara merata di atas bedengan, dosis 1-2 botol/ 1000 m². Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA dengan cara :<br />
alternatif 1 : 1 botol Super Nasa diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.<br />
alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan Super Nasa untuk menyiram 10 meter bedengan.<br />
Penyiraman POC NASA / SUPER NASA dilakukan sebelum pemberian pupuk kandang.<br />
c. Berikan pupuk kandang 5-6 ton/ha (dicampur pada tanah bedengan atau diberikan pada lubang tanam) satu minggu sebelum tanam,</p>
<p><em>3.3.2. Cara Penanaman</em><br />
Jarak tanaman tergantung varietas, 80 cm x 40 cm atau 70 x 30 cm dengan kebutuhan bibit + 1.300-1.700 kg/ha (bobot umbi 30-45 gr). Waktu tanam diakhir musim hujan (April-Juni).</p>
<p><strong>3.4. Pemeliharaan Tanaman</strong><br />
<em>3.4.1. Penyulaman</em><br />
Penyulaman untuk mengganti tanaman yang tidak tumbuh/tumbuhnya jelek dilakukan 15 hari semenjak tumbuh.</p>
<p><em>3.4.2. Penyiangan</em><br />
Penyiangan dilakukan minimal dua kali selama masa penanaman 2-3 hari sebelum/bersamaan dengan pemupukan susulan dan penggemburan.</p>
<p><em>3.4.3. Pemangkasan Bunga</em><br />
Pada varietas kentang yang berbunga sebaiknya dipangkas untuk mencegah terganggunya proses pembentukan umbi, karena terjadi perebutan unsur hara.</p>
<p><em>3.4.4. Pemupukan Susulan</em><br />
a. Pupuk Makro<br />
Urea/ZA: 21 hari setelah tanam (hst) 300 kg/ha dan 45 hst 150 kg/ha.<br />
SP-36: 21 hst  250 kg/ha.<br />
KCl: 21 hst 150 kg/ha dan 45 hst 75 kg/ha.<br />
Pupuk makro diberikan jarak 10 cm dari batang tanaman.<br />
b. POC  NASA: mulai umur 1 minggu  s/d 10 atau 11 minggu.<br />
Alternatif I : 8-10 kali (interval 1 minggu sekali dengan dosis 4 tutup/tangki   atau 1 botol (500 cc)/ drum 200 lt air.<br />
Alternatif II : 5 &#8211; 6 kali (interval 2 mingu sekali dengan dosis 6 tutup/tangki   atau 1,5 botol (750 cc)/ drum 200 lt air.<br />
c. HORMONIK : penyemprotan POC NASA akan lebih optimal jika dicampur HORMONIK (dosis 1-2 tutup/tangki atau + 2-3 botol/drum 200 liter air).</p>
<p><em>3.4.5. Pengairan</em><br />
Pengairan 7 hari sekali secara rutin dengan di gembor, Power Sprayer atau dengan mengairi selokan sampai areal lembab (sekitar 15-20 menit).</p>
<p><strong>3.5. Hama dan Penyakit<br />
3.5.1. Hama</strong><br />
<em>Ulat grayak (Spodoptera litura)</em><br />
Gejala: ulat menyerang daun hingga habis daunnya. Pengendalian: (1) memangkas daun yang telah ditempeli telur; (2) penyemprotan Natural Vitura dan sanitasi lingkungan.</p>
<p><em>Kutu daun (Aphis Sp)</em><br />
Gejala: kutu daun menghisap cairan dan menginfeksi tanaman, juga dapat menularkan virus. Pengendalian: memotong dan membakar daun yang terinfeksi, serta penyemprotan Pestona atau BVR.</p>
<p><em>Orong-orong (Gryllotalpa Sp)</em><br />
Gejala: menyerang umbi di kebun, akar, tunas muda dan tanaman muda. Akibatnya tanaman menjadi peka terhadap infeksi bakteri. Pengendalian: Pengocoran Pestona.</p>
<p><em>Hama penggerek umbi (Phtorimae poerculella Zael)</em><br />
Gejala: daun berwarna merah tua dan terlihat jalinan seperti benang berwarna kelabu yang merupakan materi pembungkus ulat. Umbi yang terserang bila dibelah, terlihat lubang-lubang karena sebagian umbi telah dimakan. Pengendalian : Pengocoran Pestona.</p>
<p><em>Hama trip ( Thrips tabaci )</em><br />
Gejala: pada daun terdapat bercak-bercak berwarna putih, berubah menjadi abu-abu perak dan mengering. Serangan dimulai dari ujung-ujung daun yang masih muda. Pengendalian: (1) memangkas bagian daun yang terserang; (2) mengunakan Pestona atau BVR.</p>
<p><strong>3.5.2. Penyakit</strong><br />
<em>Penyakit busuk daun </em><br />
Penyebab: jamur Phytopthora infestans. Gejala: timbul bercak-bercak kecil berwarna hijau kelabu dan agak basah hingga warnanya berubah menjadi coklat sampai hitam dengan bagian tepi berwarna putih yang merupakan sporangium dan daun membusuk/mati. Pengendalian: sanitasi kebun. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam.</p>
<p><em>Penyakit layu bakteri</em><br />
Penyebab: bakteri Pseudomonas solanacearum. Gejala: beberapa daun muda pada pucuk tanaman layu dan daun tua, daun bagian bawah menguning. Pengendalian: sanitasi kebun, pergiliran tanaman. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam.</p>
<p><em>Penyakit busuk umbi </em><br />
Penyebab: jamur Colleotrichum coccodes. Gejala: daun menguning dan menggulung, lalu layu dan kering. Bagian tanaman yang berada dalam tanah terdapat bercak-bercak berwarna coklat. Infeksi akan menyebabkan akar dan umbi muda busuk. Pengendalian: pergiliran tanaman , sanitasi kebun dan penggunaan bibit yang baik. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam</p>
<p><em>Penyakit fusarium </em><br />
Penyebab: jamur Fusarium sp. Gejala: busuk umbi yang menyebabkan tanaman layu. Penyakit ini juga menyerang kentang di gudang penyimpanan. Infeksi masuk melalui luka-luka yang disebabkan nematoda/faktor mekanis. Pengendalian: menghindari terjadinya luka pada saat penyiangan dan pendangiran. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam.</p>
<p><em>Penyakit bercak kering (Early Blight) </em><br />
Penyebab: jamur Alternaria solani. Jamur hidup disisa tanaman sakit dan berkembang di daerah kering. Gejala: daun berbercak kecil tersebar tidak teratur, warna coklat tua, meluas ke daun muda. Permukaan kulit umbi berbercak gelap tidak beraturan, kering, berkerut dan keras. Pengendalian: pergiliran tanaman. Pencegahan : Natural Glio sebelum/awal tanam</p>
<p><em>Penyakit karena virus</em><br />
Virus yang menyerang adalah: (1) Potato Leaf Roll Virus (PLRV) menyebabkan daun menggulung; (2) Potato Virus X (PVX) menyebabkan mosaik laten pada daun; (3) Potato Virus Y (PVY) menyebabkan mosaik atau nekrosis lokal; (4) Potato Virus A (PVA) menyebabkan mosaik lunak; (5) Potato Virus M (PVM) menyebabkan mosaik menggulung; (6) Potato Virus S (PVS) menyebabkan mosaik lemas. Gejala: akibat serangan, tanaman tumbuh kerdil, lurus dan pucat dengan umbi kecil-kecil/tidak menghasilkan sama sekali; daun menguning dan jaringan mati. Penyebaran virus dilakukan oleh peralatan pertanian, kutu daun Aphis spiraecola, A. gossypii dan Myzus persicae, kumbang Epilachna dan Coccinella dan nematoda. Pengendalian: tidak ada pestisida untuk mengendalikan virus, pencegahan dan pengendalian dilakukan dengan menanam bibit bebas virus, membersihkan peralatan, memangkas dan membakar tanaman sakit, mengendalikan vektor dengan Pestona atau BVR dan melakukan pergiliran tanaman.</p>
<p><strong>Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki. </strong></p>
<p><strong>3.6. Panen</strong><br />
Umur panen pada tanaman kentang berkisar antara 90-180 hari, tergantung varietas tanaman. Secara fisik tanaman kentang sudah dapat dipanen jika daunnya telah berwarna kekuning-kuningan yang bukan disebabkan serangan penyakit; batang tanaman telah berwarna kekuningan (agak mengering) dan kulit umbi akan lekat sekali dengan daging umbi, kulit tidak cepat mengelupas bila digosok dengan jari.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sila89.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sila89.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sila89.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sila89.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sila89.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sila89.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sila89.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sila89.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sila89.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sila89.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sila89.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sila89.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sila89.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sila89.wordpress.com/310/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sila89.wordpress.com&amp;blog=8664723&amp;post=310&amp;subd=sila89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sila89.wordpress.com/2009/09/10/budidaya-kentang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a610b0efd361aab89f05e5521e32be80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">De&#039; Sila</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sila89.files.wordpress.com/2009/09/kentang.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">KENTANG</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Budidaya Tebu</title>
		<link>http://sila89.wordpress.com/2009/09/10/budidaya-tebu/</link>
		<comments>http://sila89.wordpress.com/2009/09/10/budidaya-tebu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 14:37:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sila Adnyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budidaya Tanaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sila89.wordpress.com/?p=306</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN Saat ini pemerintah sedang menggalakkan penanaman tebu untuk mengatasi rendahnya produksi gula di Indonesia. Usaha pemerintah sangatlah wajar dan tidak berlebihan mengingat dulu Indonesia pernah mengalami masa kejayaan sebagai pengekspor gula sebelum perang. Bisakah masa keemasan ini terulang kembali? Untuk itu PT. Natural Nusantara berusaha ikut serta mengembalikan masa kejayaan melalui peningkatan produksi tebu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sila89.wordpress.com&amp;blog=8664723&amp;post=306&amp;subd=sila89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Arial;font-size:85%;"><strong>PENDAHULUAN</strong><br />
Saat ini pemerintah sedang menggalakkan penanaman tebu untuk mengatasi rendahnya produksi gula di Indonesia. Usaha pemerintah sangatlah wajar dan tidak berlebihan mengingat dulu Indonesia pernah mengalami masa kejayaan sebagai pengekspor gula sebelum perang. Bisakah masa keemasan ini terulang kembali?<br />
Untuk itu PT. Natural Nusantara berusaha ikut serta mengembalikan masa kejayaan melalui peningkatan produksi tebu baik secara kuantitas, kualitas dan kelestarian (aspek K-3).</span></p>
<p><strong>SYARAT TUMBUH</strong><br />
Tanah yang cocok adalah bersifat kering-kering basah, yaitu curah hujan kurang dari 2000 mm per tahun. Tanah tidak terlalu masam, pH diatas 6,4. Ketinggian kurang dari 500 m dpl.</p>
<p><strong>JENIS &#8211; JENIS TEBU</strong><br />
Jenis tebu yang sering ditanam POY 3016, P.S. 30, P.S. 41, P.S. 38, P.S. 36, P.S. 8, B.Z. 132, B.Z. 62, dll.</p>
<p><strong>PEMBUKAAN KEBUN</strong><br />
Sebaiknya pembukaan dan penanaman dimulai dari petak yang paling jauh dari jalan utama atau lori pabrik<br />
Ukuran got standar ; Got keliling/mujur lebar 60 cm; dalam 70 cm, Got malang/palang lebar 50 cm; dalam 60 cm. Buangan tanah got diletakkan di sebelah kiri got. Apabila got diperdalam lagi setelah tanam, maka tanah buangannya diletakkan di sebelah kanan got supaya masih ada jalan mengontrol tanaman.<br />
Juringan/cemplongan (lubang tanam) baru dapat dibuat setelah got &#8211; got malang mencapai kedalaman 60 cm dan tanah galian got sudah diratakan. Ukuran standar juringan adalah lebar 50 cm dan dalam 30 cm untuk tanah basah, 25 cm untuk tanah kering. Pembuatan juringan harus dilakukan dua kali, yaitu stek pertama dan stek kedua serta rapi.<br />
Jalan kontrol dibuat sepanjang got mujur dengan lebar + 1 m. Setiap 5 bak dibuat jalan kontrol sepanjang got malang dengan lebar + 80 cm. Pada juring nomor 28, guludan diratakan untuk jalan kontrol (jalan tikus)</p>
<p><strong>TURUN TANAH/KEBRUK</strong><br />
Yaitu mengembalikan tanah stek kedua ke dalam juringan untuk membuat kasuran/bantalan/dasar tanah. Tebalnya tergantung keadaan, bila tanahnya masih basah + 10 cm. di musim kemarau terik tebal + 15 &#8211; 20 cm.</p>
<p><strong>PERSIAPAN TANAM</strong><br />
- Lakukan seleksi bibit di luar kebun<br />
- Bibit stek harus ditanam berhimpitan agar mendapatkan jumlah anakan semaksimal mungkin. Bibit stek + 70.000 per ha.<br />
- Sebelum ditanam, permukaan potongan direndam dahulu dengan POC NASA dosis 2 tutup + Natural GLIO dosis 5 gr per 10 liter air.<br />
- Sebelum tanam, juringan harus diari untuk membasahi kasuran, sehingga kasuran hancur dan halus.</p>
<p><strong>CARA TANAM</strong><br />
<strong>1. Bibit Bagal/debbeltop/generasi</strong><br />
Tanah kasuran harus diratakan dahulu, kemudian tanah digaris dengan alat yang runcing dengan kedalaman + 5-10 cm. Bibit dimasukkan ke dalam bekas garisan dengan mata bibit menghadap ke samping. Selanjutnya bibit ditimbun dengan tanah.</p>
<p><strong>2. Bibit Rayungan (bibit yang telah tumbuh di kebun bibit</strong>), jika bermata (tunas) satu: batang bibit terpendam dan tunasnya menghadap ke samping dan sedikit miring, + 45 derajat. Jika bibit rayungan bermata dua; batang bibit terpendam dan tunas menghadap ke samping dengan kedalaman + 1 cm.</p>
<p>3. Sebaiknya, bibit bagal (stek) dan rayungan ditanam secara terpisah di dalam petak-petak tersendiri supaya pertumbuhan tanaman merata.</p>
<p><strong>WAKTU TANAM</strong><br />
Berkaitan dengan masaknya tebu dengan rendemen tinggi tepat dengan timing masa giling di pabrik gula. Waktu yang tepat pada bulan Mei, Juni dan Juli.</p>
<p><strong>PENYIRAMAN</strong><br />
Penyiraman tidak boleh berlebihan supaya tidak merusak struktur tanah. Setelah satu hari tidak ada hujan, harus segera dilakukan penyiraman.</p>
<p><strong>PENYULAMAN</strong><br />
1. Sulam sisipan, dikerjakan 5 &#8211; 7 hari setelah tanam, yaitu untuk tanaman rayungan bermata satu.<br />
2. Sulaman ke &#8211; 1, dikerjakan pada umur 3 minggu dan berdaun 3 &#8211; 4 helai. Bibit dari rayungan bermata dua atau pembibitan.<br />
3. Penyulaman yang berasal dari ros/pucukan tebu dilakukan ketika tanaman berumur + 1 bulan<br />
4. Penyulaman ke-2 harus selesai sebelum pembubunan, bersama sama dengan pemberian air ke &#8211; 2 atau rabuk ke-2 yaitu umur 1,5 bulan<br />
5. Penyulaman ekstra bila perlu, yaitu sebelum bumbun ke -2</p>
<p><strong>PEMBUMBUNAN TANAH</strong><br />
&gt; Pembumbunan ke-1 dilakukan pada umur 3-4 minggu, yaitu berdaun 3 &#8211; 4 helai. Pembumbunan dilakukan dengan cara membersihkan rumput-rumputan, membalik guludan dan menghancurkan tanah (jugar) lalu tambahkan tanah ke tanaman sehingga tertimbun tanah.<br />
&gt; Pembumbunan ke &#8211; 2 dilakukan jika anakan tebu sudah lengkap dan cukup besar + 20 cm, sehingga tidak dikuatirkan rusak atau patah sewaktu ditimbun tanah atau + 2 bulan.<br />
&gt; Pembumbunan ke-3 atau bacar dilakukan pada umur 3 bulan, semua got harus diperdalam ; got mujur sedalam 70 cm dan got malang 60 cm.</p>
<p><strong>GARPU MUKA GULUD</strong><br />
Penggarpuan harus dikerjakan sampai ke pinggir got, sehingga air dapat mengalir. Biasanya dikerjakan pada bulan Oktober/November ketika tebu mengalami kekeringan.</p>
<p><strong>KLENTEK </strong><br />
Yaitu melepaskan daun kering, harus dilakukan 3 kali, yaitu sebelum gulud akhir, umur 7 bulan dan 4 minggu sebelum tebang.</p>
<p><strong>TEBU ROBOH</strong><br />
Batang tebu yang roboh atau miring perlu diikat, baik silang dua maupun silang empat. Ros &#8211; ros tebu, yang terdiri dari satu deretan tanaman, disatukan dengan rumpun &#8211; rumpun dari deretan tanaman di sisinya, sehingga berbentuk menyilang.</p>
<p><strong>PEMUPUKAN</strong><br />
1. Sebelum tanam diberi TSP 1 kuintal/ha<br />
2. Siramkan pupuk SUPER NASA yang telah dicampur air secara merata di atas juringan dosis ± 1 &#8211; 2 botol/1000 m² dengan cara :<br />
Alternatif 1 : 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram juringan.<br />
Alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan SUPERNASA untuk menyiram 5 &#8211; 10 meter juringan.<br />
3. Saat umur 25 hari setelah tanam berikan pupuk ZA sebanyak 0,5-1 kw/ha. Pemupukan ditaburkan di samping kanan rumpun tebu<br />
4. Umur 1,5 bulan setelah tanam berikan pupuk ZA sebanyak 0,5 &#8211; 1 kw/ha dan KCl sebanyak 1-2 kw/ha. Pemupukan ditaburkan di sebelah kiri rumpun tebu.<br />
5. Untuk mendapatkan rendemen dan produksi tebu tinggi, semprot POC NASA dosis 4 &#8211; 6 tutup dicampur HORMONIK 1 &#8211; 2 tutup per-tangki pada umur 1 dan 3 bulan</p>
<p><strong>HAMA DAN PENYAKIT </strong><br />
<em>1. Hama Penggerek Pucuk dan batang</em><br />
Biasanya menyerang mulai umur 3 &#8211; 5 bulan. Kendalikan dengan musuh alami Tricogramma sp dan lalat Jatiroto, semprot PESTONA / Natural BVR</p>
<p><em>2. Hama Tikus</em><br />
Kendalikan dengan gropyokan, musuh alami yaitu : ular, anjing atau burung hantu</p>
<p><em>3. Penyakit Fusarium Pokkahbung</em><br />
Penyebab jamur Gibbrella moniliformis. Tandanya daun klorosis, pelepah daun tidak sempurna dan pertumbuhan terhambat, ruas-ruas bengkok dan sedikit gepeng serta terjadi pembusukan dari daun ke batang. Penyemprotan dengan 2 sendok makan Natural GLIO + 2 sendok makan gula pasir dalam tangki semprot 14 atau 17 liter pada daun-daun muda setiap minggu, pengembusan tepung kapur tembaga ( 1 : 4 : 5 )</p>
<p><em>4. Penyakit Dongkelan</em><br />
Penyebab jamur Marasnius sacchari, yang bias mempengaruhi berat dan rendemen tebu. Gejala, tanaman tua sakit tiba-tiba, daun mengering dari luar ke dalam. Pengendalian dengan cara penjemuran dan pengeringan tanah, harus dijaga, sebarkan Natural GLIO sejak awal.</p>
<p><em>5. Penyakit Nanas</em><br />
Disebabkan jamur Ceratocytis paradoxa. Menyerang bibit yang telah dipotong. Pada tapak (potongan) pangkas, terdapat warna merah yang bercampur dengan warna hitam dan menyebarkan bau seperti nanas. Bibit tebu direndam dengan POC NASA dan Natural GLIO.</p>
<p><em>6. Penyakit Blendok</em><br />
Disebabkan oleh Bakteri Xanthomonas albilincans Mula-mula muncul pada umur 1,5 &#8211; 2 bulan setelah tanam. Daun-daun klorotis akan mengering, biasanya pada pucuk daun dan umumnya daun-daun akan melipat sepanjang garis-garis tadi. Jika daun terserang hebat, seluruh daun bergaris-garis hijau dan putih. Rendam bibit dengan air panas dan POC NASA selama 50 menit kemudian dijemur sinar matahari. Gunakan Natural GLIO sejak awal sebelum tanam untuk melokalisir serangan.</p>
<p><strong>RENDEMEN TEBU</strong><br />
Proses kemasakan tebu merupakan proses yang berjalan dari ruas ke ruas yang tingkat kemasakannya tergantung pada ruas yang yang bersangkutan. Tebu yang sudah mencapai umur masak, keadaan kadar gula di sepanjang batang seragam, kecuali beberapa ruas di bagian pucuk dan pangkal batang.<br />
Usahakan agar tebu ditebang saat rendemen pada posisi optimal yaitu sekitar bulan Agustus atau tergantung jenis tebu. Tebu yang berumur 10 bulan akan mengandung saccharose 10 %, sedang yang berumur 12 bulan bisa mencapai 13 %.</p>
<p><strong>TEBU KEPRASAN</strong><br />
- Yaitu menumbuhkan kembali bekas tebu yang telah ditebang, baik bekas tebu giling atau tebu bibitan (KBD).<br />
- Kebun yang akan dikepras harus dibersihkan dari kotoran bekas tebangan yang lalu. Sebelum mengepras , sebaiknya tanah yang terlalu kering di airi dulu. Kepras petak &#8211; petak tebu secara berurutan. Setelah dikepras siramkan SUPER NASA (dosis sama seperti di atas). Lima hari atau seminggu setelah dikepras, tanaman diairi dan dilakukan penggarapan (jugaran) sebagai bumbun ke-1 dan pembersihan rumput &#8211; rumput.<br />
- Lakukan penyemprotan POC NASA dan HORMONIK pada umur 1,2 dan 3 bulan dengan dosis seperti di atas.Pemeliharaan selanjutnya sama dengan tanam tebu pertama.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sila89.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sila89.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sila89.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sila89.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sila89.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sila89.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sila89.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sila89.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sila89.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sila89.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sila89.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sila89.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sila89.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sila89.wordpress.com/306/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sila89.wordpress.com&amp;blog=8664723&amp;post=306&amp;subd=sila89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sila89.wordpress.com/2009/09/10/budidaya-tebu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a610b0efd361aab89f05e5521e32be80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">De&#039; Sila</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Budidaya Melon</title>
		<link>http://sila89.wordpress.com/2009/09/10/budidaya-melon/</link>
		<comments>http://sila89.wordpress.com/2009/09/10/budidaya-melon/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 14:34:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sila Adnyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budidaya Tanaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sila89.wordpress.com/?p=301</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN Agribisnis melon menunjukkan prospek menjanjikan. Tetapi jika faktor tanah yang semakin keras, miskin unsur hara terutama unsur hara mikro dan hormon alami, faktor iklim dan cuaca, faktor hama dan penyakit tanaman serta faktor pemeliharaan tidak diperhatikan maka keuntungan akan menurun. PT. Natural Nusantara berusaha membantu meningkatkan produktivitas melon secara Kuantitas, Kualitas, dan Kelestarian lingkungan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sila89.wordpress.com&amp;blog=8664723&amp;post=301&amp;subd=sila89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><span style="font-family:Arial;font-size:85%;"><strong>PENDAHULUAN</strong><br />
Agribisnis melon menunjukkan prospek menjanjikan. Tetapi jika faktor tanah yang semakin keras, miskin unsur hara terutama unsur hara mikro dan hormon alami, faktor iklim dan cuaca, faktor hama dan penyakit tanaman serta faktor pemeliharaan tidak diperhatikan maka keuntungan akan menurun.<br />
PT. Natural Nusantara berusaha membantu meningkatkan produktivitas melon secara Kuantitas, Kualitas, dan Kelestarian lingkungan ( Aspek K-3 ).</span></p>
<p><strong>II. SYARAT PERTUMBUHAN</strong><br />
<em>2.1. Iklim</em><br />
Perlu penyinaran matahari penuh selama pertumbuhannya. Pada kelembaban yang tinggi tanaman melon mudah diserang penyakit. Suhu optimal antara 25-300C. Angin yang bertiup cukup keras dapat merusak pertanaman melon. Hujan terus menerus akan merugikan tanaman melon. Tumbuh baik pada ketinggian 300-900 m dpl.</p>
<p><em> 2.2. Media Tanam</em><br />
Tanah yang baik ialah tanah liat berpasir yang banyak mengandung bahan organik seperti andosol, latosol, regosol, dan grumosol, asalkan kekurangan dari sifat-sifat tanah tersebut dapat dimanipulasi dengan pengapuran, penambahan bahan organik, maupun pemupukan. Tanaman melon tidak menyukai tanah yang terlalu basah, pH tanah 5,8-7,2.</p>
<p><strong>III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA</strong><br />
<strong>3.1. Pembibitan</strong><br />
<em>3.1.1. Pembuatan Media Semai</em><br />
Siapkan Natural GLIO : 1-2 kemasan Natural GLIO dicampur dengan 50-100 kg pupuk kandang untuk lahan 1000 m2. Selanjutnya didiamkan + 1 minggu di tempat yang teduh dengan selalu menjaga kelembabannya dan sesekali diaduk (dibalik).<br />
Campurkan tanah halus (diayak) 2 bagian/2 ember (volume 10 lt), pupuk kandang matang yang telah diayak halus sebanyak 1 bagian/1 ember, TSP (± 50 gr) yang dilarutkan dalam 2 tutup POC NASA, dan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang 1-2 kg . Masukkan media semai ke dalam polybag ukuran 8&#215;10 cm sampai terisi hingga 90%.</p>
<p><em>3.1.2. Teknik Penyemaian dan pemeliharaan Bibit</em><br />
Rendam benih dalam 1 liter air hangat suhu 20-250C + 1 tutup POC NASA selama 8-12 jam lalu diperam + 48 jam. Selanjutnya disemai dalam polybag, sedalam 1-1,5 cm. Benih disemaikan dalam posisi tegak dan ujung calon akarnya menghadap ke bawah. Benih ditutup dengan campuran abu sekam dan tanah dengan perbandingan 2:1. Kantong persemaian diletakkan berderet agar terkena sinar matahari penuh sejak terbit hingga tenggelam. Diberi perlindungan plastik transparan yang salah satu ujungnya terbuka.<br />
Semprotkan POC NASA untuk memacu perkembangan bibit, pada umur bibit 7-9 hari dengan dosis 1,0-1,5 cc/liter. Penyiraman dilakukan dengan hati-hati secara rutin setiap pagi.<br />
Bibit melon yang sudah berdaun 4-5 helai atau tanaman melon telah berusia 10-12 hari dapat dipindahtanamkan dengan cara kantong plastik polibag dibuka hati-hati lalu bibit berikut tanahnya ditanam pada bedengan yang sudah dilubangi sebelumnya, bedengan jangan sampai kekurangan air.</p>
<p><strong>3.2. Pengolahan Media Tanam</strong><br />
<em>3.2.1. Pembukaan Lahan</em><br />
Sebelum dibajak digenangi air lebih dahulu semalam, kemudian keesokan harinya dilakukan pembajakan dengan kedalaman sekitar 30 cm. Setelah itu dilakukan pengeringan, baru dihaluskan.</p>
<p><em>3.2.2. Pembentukan Bedengan</em><br />
Panjang bedengan maksimum 12-15 m; tinggi bedengan 30-50 cm; lebar bedengan 100-110 cm; dan lebar parit 55-65 cm.</p>
<p><em>3.2.3. Pengapuran</em><br />
Penggunaan kapur per 1000 m2 pada pH tanah 4-5 diperlukan 150-200 kg dolomit , untuk antara pH 5-6 dibutuhkan 75-150 kg dolomit dan pH &gt;6 dibutuhkan dolomit sebanyak 50 kg.</p>
<p><em> 3.2.4. Pemupukan Dasar<br />
</em></p>
<div><span style="font-family:Arial;font-size:85%;"></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="76" valign="top">
<p align="center"><strong>Pupuk</strong><br />
<strong>Kandang</strong><br />
(ton/ ha)</td>
<td colspan="3" width="151" valign="top">
<p align="center"><strong>Dosis Pupuk    Makro </strong><br />
( gram/ pohon )</td>
<td rowspan="2" width="145" valign="top">
<p align="center"><strong>Dosis  POC NASA</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">
<p align="center"><strong>Urea </strong></p>
</td>
<td width="57" valign="top">
<p align="center"><strong>SP36</strong></p>
</td>
<td width="47" valign="top">
<p align="center"><strong>KCl </strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="76" valign="top">
<p align="center">4-5</p>
</td>
<td width="47" valign="top">
<p align="center">12</p>
</td>
<td width="57" valign="top">
<p align="center">20</p>
</td>
<td width="47" valign="top">
<p align="center">8</p>
</td>
<td width="145" valign="top">
<p align="center">30-60 tutup /1000 m2<br />
+ air secukupnya (siramkan)</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Hasil akan lebih baik jika pada pemupukan dasar, POC NASA diganti SUPER NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis 1-2 botol/1000 m2 dengan cara :<br />
<em><strong>Alternatif 1</strong> :</em> 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.<br />
<em><strong>Alternatif 2</strong> :</em> setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 meter bedengan.</p>
<p><em> 3.2.5. Pemberian Natural GLIO</em><br />
Untuk mencegah serangan penyakit karena jamur terutama penyakit layu, sebaiknya tebarkan Natural GLIO yang sudah disiapkan sebelum persemaian. Dosis 1-2 kemasan per 1000 m2</p>
<p><em>3.2.6. Pemasangan Mulsa Plastik Hitam-Perak (PHP)</em><br />
Pemasangan mulsa sebaiknya saat matahari terik agar mulsa dapat memuai sehingga menutup bedengan dengan tepat. Biarkan bedengan tertutup mulsa 3-5 hari sebelum dibuat lubang tanam.</p>
<p><strong>3.3. Teknik Penanaman</strong><br />
<em>3.3.1. Pembuatan Lubang Tanam</em><br />
Diameter lubang + 10 cm, jarak lubang 60-80 cm. Model penanaman dapat berupa dua baris berhadap-hadapan membentuk segiempat atau segitiga.</p>
<p><em>3.3.2. Cara Penanaman</em><br />
Bibit siap tanam dipindahkan beserta medianya. Usahakan akar tanaman tidak sampai rusak saat menyobek polibag.</p>
<p><strong>3.4. Pemeliharaan Tanaman<br />
</strong><em>3.4.1. Penyulaman </em><br />
Penyulaman dilakukan 3-5 hari setelah tanam. Setelah selesai penyulaman tanaman baru harus disiram air. Sebaiknya penyulaman dilakukan sore hari<br />
<em>3.4.2. Penyiangan</em><br />
Penyiangan dilakukan untuk membersihkan gulma/ rumput liar.<br />
3.4.3. Perempelan&gt;<br />
Perempelan dilakukan terhadap tunas/cabang air yang bukan merupakan cabang utama.<br />
<em>3.4.4. Pemupukan<br />
</em></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="132" valign="top">
<p align="center"><strong>Waktu</strong></p>
</td>
<td colspan="3" width="240" valign="top">
<p align="center"><strong>Dosis Pupuk    Makro ( gram/ pohon )</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="90" valign="top">
<p align="center"><strong>Urea </strong></p>
</td>
<td width="72" valign="top">
<p align="center"><strong>SP-36</strong></p>
</td>
<td width="78" valign="top">
<p align="center"><strong>KCl </strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="132" valign="top">Umur 10 hari</td>
<td width="90" valign="top">
<p align="center">12</p>
</td>
<td width="72" valign="top">
<p align="center">12</p>
</td>
<td width="78" valign="top">
<p align="center">10</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="132" valign="top">Umur 20 hari</td>
<td width="90" valign="top">
<p align="center">12</p>
</td>
<td width="72" valign="top">
<p align="center">12</p>
</td>
<td width="78" valign="top">
<p align="center">10</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="132" valign="top">Umur 30 hari</td>
<td width="90" valign="top">
<p align="center">12</p>
</td>
<td width="72" valign="top">
<p align="center">8</p>
</td>
<td width="78" valign="top">
<p align="center">12</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="132" valign="top">Umur 40 hari</td>
<td width="90" valign="top">
<p align="center">12</p>
</td>
<td width="72" valign="top">
<p align="center">8</p>
</td>
<td width="78" valign="top">
<p align="center">20</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="132" valign="top">
<p align="center"><strong>POC NASA :</strong><br />
<strong>( per ha )</strong><br />
Mulai umur 1 minggu –  6 atau 7 minggu</td>
<td colspan="3" width="240" valign="top"><strong>POC NASA disemprotkan ke tanaman : </strong></p>
<ul>
<li><strong>Alternatif 1 </strong>:  6-7 kali ( interval 1 minggu sekali) dgn    dosis 4 tutup botol/ tangki</li>
<li><strong>Alternatif 2</strong> : 4 kali (interval 2 minggu sekali ) dgn dosis 6 tutup botol/ tangki</li>
</ul>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p></span></div>
<p><span style="font-family:Arial;font-size:85%;"><br />
<em> 3.4.5. Penggunaan  Hormonik</em><br />
Dosis HORMONIK : 1-2 cc/lt air atau 1-2 tutup HORMONIK + 3-5 tutup POC NASA setiap tangki semprot. Penyemprotan HORMONIK mulai usia 3-11 minggu, interval 7 hari sekali.</span></p>
<p><em>3.4.6. Penyiraman</em><br />
Penyiraman sejak masa pertumbuhan tanaman, sampai akan dipetik buahnya kecuali hujan. Saat menyiram jangan sampai air siraman membasahi daun dan air dari tanah jangan terkena daun dan buahnya. Penyiraman dilakukan pagi-pagi sekali.</p>
<p><em>3.4.7. Pemeliharaan Lain</em><br />
a. Pemasangan Ajir<br />
Ajir dipasang sesudah bibit mengeluarkan sulur-sulurnya. Tinggi ajir + 150 &#8211; 200 cm. Ajir terbuat dari bahan yang kuat sehingga mampu menahan beban buah + 2-3 kg. Tempat ditancapkannya ajir + 25 cm dari pinggir guludan baik kanan maupun kiri. Supaya ajir lebih kokoh bisa menambahkan bambu panjang yang diletakkan di bagian pucuk segitiga antara bambu atau kayu yang menyilang, mengikuti barisan ajir-ajir di belakangnya.<br />
b. Pemangkasan<br />
Pemangkasan dilakukan pada tanaman melon bertujuan untuk memelihara cabang sesuai dengan yang dikehendaki. Tinggi tanaman dibuat rata-rata antara titik ke-20 sampai ke-25 (bagian ruas, cabang atau buku dari tanaman tersebut). Pemangkasan dilakukan kalau udara cerah dan kering, supaya bekas luka tidak diserang jamur. Waktu pemangkasan dilakukan setiap 10 hari sekali, yang paling awal dipangkas adalah cabang yang dekat dengan tanah dan sisakan dua helai daun, kemudian cabang-cabang yang tumbuh dipangkas dengan menyisakan 2 helai daun. Pemangkasan dihentikan, jika ketinggian tanamannya sudah mencapai pada cabang ke-20 atau 25.</p>
<p><strong>3.5. Hama dan Penyakit<br />
3.5.1. Hama</strong><br />
<em>a. Kutu Aphis (Aphis gossypii Glover )</em><br />
Ciri: mempunyai getah cairan yang mengandung madu dan di lihat dari kejauhan mengkilap. Aphis muda berwarna kuning, sedangkan yang dewasa mempunyai sayap dan berwarna agak kehitaman. Gejala: daun tanaman menggulung, pucuk tanaman menjadi kering akibat cairan daun dihisap hama. Pengendalian: (1) gulma selalu dibersihkan agar tidak menjadi inang hama; (2) semprot Pestona atau Natural BVR.</p>
<p><em>b. Thrips (Thrips parvispinus Karny)</em><br />
Ciri: menyerang saat fase pembibitan sampai tanaman dewasa. Nimfa berwarna kekuning-kuningan dan dewasa berwarna coklat kehitaman. Serangan dilakukan di musim kemarau. Gejala: daun muda atau tunas baru menjadi keriting, dan bercak kekuningan; tanaman keriting dan kerdil serta tidak dapat membentuk buah secara normal. Gejala ini harus diwaspadai karena telah tertular virus yang dibawa hama thrips. Pengendalian: menyemprot dengan Pestona atau Natural BVR.</p>
<p><strong>3.5.2. Penyakit<br />
</strong><em>a. Layu Bakteri</em><br />
Penyebab: bakteri Erwina tracheiphila E.F.Sm. Penyakit ini dapat disebarkan dengan perantara kumbang daun oteng-oteng (Aulacophora femoralis Motschulsky). Gejala: daun dan cabang layu, terjadi pengerutan pada daun, warna daun menguning, mengering dan akhirnya mati; daun tanaman layu satu per satu, meskipun warnanya tetap hijau. Apabila batang tanaman yang dipotong melintang akan mengeluarkan lendir putih kental dan lengket bahkan dapat ditarik seperti benang. Pengendalian: penggunaan Natural GLIO sebelum tanam.</p>
<p><em>b. Penyakit Busuk Pangkal Batang (gummy stem bligt)</em><br />
Penyebab: Cendawan Mycophaerekka melonis (Passerini) Chiu et Walker. Gejala: pangkal batang seperti tercelup minyak kemudian keluar lendir berwarna merah coklat dan kemudian tanaman layu dan mati; daun yang terserang akan mengering. Pengendalian: (1) penggunaan mulsa PHP untuk mencegah kelembaban di sekitar pangkal batang dan mencegah luka di perakaran maupun pangkal batang karena penyiangan; (2) daun yang terserang dibersihkan. (3) gunakan Natural GLIO sebelum tanam sebagai pencegahan.</p>
<p><strong>Catatan: Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.<br />
</strong><br />
<strong>3.5.3. Gulma</strong><br />
Gulma (tumbuhan pengganggu) merugikan tanaman, karena bersaing zat hara, tempat tumbuh dan cahaya. Pencabutan gulma harus dilakukan sejak tumbuhan masih kecil, karena jika sudah besar akan merusak perakaran tanaman melon.</p>
<p><strong>3.6. Panen<br />
3.6.1. Ciri dan Umur Panen</strong><br />
a. Tanda/Ciri Penampilan Tanaman Siap Panen<br />
1. Ukuran buah sesuai dengan ukuran normal<br />
2. Jala/Net  pada kulit buah sangat nyata/kasar<br />
3. Warna kulit hijau kekuningan.<br />
b. Umur Panen + 3 bulan setelah tanam.<br />
c. Waktu Pemanenan yang baik adalah pada pagi hari.</p>
<p><strong>3.6.2. Cara Panen</strong><br />
a. Potong tangkai buah melon dengan pisau, sisakan minimal 2,0 cm untuk memperpanjang masa simpan buah.<br />
b. Tangkai dipotong berbentuk huruf  &#8220;T&#8221; , maksudnya agar tangkai buah utuh.<br />
c. Pemanenan dilakukan secara bertahap, dengan mengutamakan buah yang benar-benar telah siap dipanen.<br />
d. Buah yang telah dipanen disortir. Kerusakan buah akibat terbentur/cacat fisik lainnya, sebaiknya dihindari karena akan mengurangi harga jual.</p>
<p><strong>3.6.3. Penyimpana</strong>n<br />
Buah melon tidak boleh ditumpuk, yang belum terangkut disimpan dalam gudang. Buah ditata rapi dengan dilapisi jerami kering. Tempat penyimpanan harus bersih dan kering.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sila89.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sila89.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sila89.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sila89.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sila89.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sila89.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sila89.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sila89.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sila89.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sila89.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sila89.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sila89.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sila89.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sila89.wordpress.com/301/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sila89.wordpress.com&amp;blog=8664723&amp;post=301&amp;subd=sila89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sila89.wordpress.com/2009/09/10/budidaya-melon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a610b0efd361aab89f05e5521e32be80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">De&#039; Sila</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Budidaya Mangga</title>
		<link>http://sila89.wordpress.com/2009/09/10/budidaya-mangga/</link>
		<comments>http://sila89.wordpress.com/2009/09/10/budidaya-mangga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 14:27:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sila Adnyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budidaya Tanaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sila89.wordpress.com/?p=295</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN Produksi mangga pada saat ini belum mampu memenuhi permintaan pasar, khususnya pasar luar negeri. Ketidakmampuan ini bukan hanya disebabkan produktivitas rendah tetapi juga kualitasnya masih kurang. Kondisi ini disebabkan oleh penerapan teknologi budidaya yang belum optimal. Memperhatikan hal tersebut PT. NATURAL NUSANTARA membantu peningkatan produksi secara kuantitas , kualitas dan kelestarian (Aspek K-3). sehingga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sila89.wordpress.com&amp;blog=8664723&amp;post=295&amp;subd=sila89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Arial;font-size:85%;"><strong> </strong></span></p>
<div id="attachment_296" class="wp-caption alignleft" style="width: 123px"><strong><strong><a rel="attachment wp-att-296" href="http://sila89.wordpress.com/2009/09/10/budidaya-mangga/mangga/"><img class="size-full wp-image-296" title="mangga" src="http://sila89.files.wordpress.com/2009/09/mangga.jpg?w=500" alt="sila89wordpress.com"   /></a></strong></strong><p class="wp-caption-text">sila89wordpress.com</p></div>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong><br />
Produksi mangga pada saat ini belum mampu memenuhi permintaan pasar, khususnya pasar luar negeri. Ketidakmampuan ini bukan hanya disebabkan produktivitas rendah tetapi juga kualitasnya masih kurang. Kondisi ini disebabkan oleh penerapan teknologi budidaya yang belum optimal.<br />
Memperhatikan hal tersebut PT. NATURAL NUSANTARA membantu peningkatan produksi secara kuantitas , kualitas dan kelestarian (Aspek K-3). sehingga petani mampu bersaing di era pasar bebas.<br />
<strong>AGROEKOLOGI</strong><br />
Tanaman mangga tumbuh baik pada ketinggian 50-300 m dpl pada lapisan tanah tebal dan struktur tanah remah dan berbutir-butir.<br />
<strong>VARIETAS</strong><br />
Varietas yang bernilai jual tinggi antara lain Gadung 21 atau Arumanis 143. Varietas lainnya adalah Manalagi 69, Lalijiwo, Chokanan dan Golek 31.<br />
<strong>PERSIAPAN LAHAN</strong><br />
Lubang tanam dibuat 1-2 bulan sebelum tanam,ukuran 1 m x 1m x 1 m dan jarak tanam 6 m x 8 m. Dua minggu sebelum pelaksanaan tanam, tanah galian dimasukkan kembali ke dalam lubang tanam dengan campur pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1. Akan lebih optimal siram SUPERNASA (0,5 sdm / + 5 lt air/pohon).<br />
<strong>PENANAMAN</strong><br />
Penanaman di awal musim hujan. Sebelum bibit ditanam kantong plastik dilepas. Kedalaman tanam + 15-20 cm diatas leher akar dan tanah disekitar tanaman ditekan ke arah tanaman agar tidak roboh. Tanaman diberi naungan dengan posisi miring ke barat dan selanjutnya dikurangi sedikit demi sedikit.<br />
<strong>PEMUPUKAN</strong><br />
~ Pupuk Kandang (PK) diberikan 1 kali pada awal musim hujan. Caranya dibenamkan disekitar pohon selebar tajuk tanaman atau menggali lubang pada sisi tanaman. Mangga umur 1 &#8211; 5 tahun diberi 30 kg PK, umur 6 &#8211; 15 tahun diberi 60 kg PK. Akan lebih optimal jika ditambahkan ~ ~ SUPERNASA atau jika pupuk kandang sulit dapat digunakan SUPERNASA dengan dosis :<br />
- Alternatif 1  : 0,5 sendok makan/ 5 lt air per tanaman.<br />
- Alternatif 2 : 1 botol SUPER NASA encerkan dalam 2 lt (2000 ml) air jadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 lt air diberi 20 ml larutan induk tadi untuk menyiram per pohon.<br />
~ Pemberian SUPERNASA selanjutnya dapat diberikan setiap 3 &#8211; 4 bulan sekali.<br />
~ Penyemprotan POC NASA (4-5 ttp/tangki) atau lebih optimal POC NASA (3-4 ttp) + HORMONIK (1 ttp ) per tangki setiap 1 &#8211; 3 bulan sekali.<br />
~ Pupuk NPK 2 kali setahun di awal (Nopember &#8211; Desember), akhir musim hujan (April &#8211; Mei) dosis sbb:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="49" valign="top"><strong>Umur (th)</strong></td>
<td rowspan="2" width="54" valign="top"><strong>PK</strong><br />
<strong> (kg)</strong></td>
<td colspan="3" width="167" valign="top"><strong>Dosis Pupuk    Makro (KG/Pohon)</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="48" valign="top"><strong>ZA </strong></td>
<td width="60" valign="top"><strong>TSP</strong></td>
<td width="59" valign="top"><strong>KCl</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">1 – 3</td>
<td width="54" valign="top">20 – 30</td>
<td width="48" valign="top">0.5 – 1</td>
<td width="60" valign="top">0.25-0.5</td>
<td width="59" valign="top">0.25-0.5</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">4  &#8211;  6</td>
<td width="54" valign="top">30 – 40</td>
<td width="48" valign="top">1 – 2</td>
<td width="60" valign="top">0.5 – 1</td>
<td width="59" valign="top">0.5 – 1</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">7 – 10</td>
<td width="54" valign="top">50 – 60</td>
<td width="48" valign="top">2 – 3</td>
<td width="60" valign="top">1 – 1.5</td>
<td width="59" valign="top">1 – 1.5</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">&gt; 10</td>
<td width="54" valign="top">50 – 60</td>
<td width="48" valign="top">3 – 4</td>
<td width="60" valign="top">1.5 – 2</td>
<td width="59" valign="top">1.5 – 2</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><span style="font-family:Arial;font-size:85%;"> <strong>PEMANGKASAN</strong><br />
Pangkas Bentuk (3 tahap) :<br />
Tahap I : umur 1 tahun setelah tanam pada musim hujan dengan memotong batang setinggi 50 &#8211; 60 cm dari permukaan tanah dan pemotongan di atas bidang sambungan. Dari cabang yang tumbuh dipelihara 3 cabang yang arahnya menyebar.<br />
Tahap II : pemangkasan dilakukan pada ketiga cabang yang tumbuh tersebut setelah berumur 2 tahun, caranya menyisakan 1 &#8211; 2 ruas/pupus. Tunas yang tumbuh pada masing-masing cabang dipelihara 3 tunas. Jika lebih dibuang. Tahapan pemangkasan tersebut akan diperoleh pohon dengan rumus cabang 1- 3 &#8211; 9.<br />
Tahap III : umur 3 tahun, cara sama seperti  tahap  II, tetapi tunas yang tumbuh dipelihara semua untuk produksi.<br />
<strong>PANGKAS PRODUKSI</strong><br />
Pemangkasan ini untuk memelihara tanaman dengan memotong cabang mati / kering, cabang yang tumbuh ke dalam dan ke bawah serta cabang air yaitu cabang muda yang tidak akan menghasilkan buah. Pemangkasan produksi dilaksanakan segera setelah panen.<br />
<strong>PENDANGIRAN</strong><br />
Dilakukan 2 kali dalam setahun pada awal dan akhir musim hujan, dengan membalik tanah (pembumbunan) di sekitar kaca tanaman agar patogen yang ada dalam tanah mati.<br />
<strong>MULCHING (MULSA)</strong><br />
Pemberian mulsa di akhir musim hujan, menggunakan jerami / sisa-sisa bekas pangkasan / tanaman sela.<br />
<strong>PENGENDALIAN GULMA</strong><br />
Pengendalian gulma dilakukan minimal 3 kali setahun.<br />
<strong>INDUKSI BUNGA</strong><br />
Untuk merangsang pembungaan digunakan Pupuk Organik Padat SUPER NASA dengan dosis 1-2 sendok/pohon dicampur 10 liter air disiramkan secara merata di bawah kanopi pohon setelah pupus kedua ( Februari-Maret) dan disemprot POC NASA (3-4 ttp/tangki) + HORMONIK (1 ttp) per tangki.<br />
<strong>PENGELOLAAN BUNGA DAN BUAH</strong><br />
Pengelolaan bunga dan buah dilakukan 4 kali, pada saat bud break, bud elongation, mango size (kacang hijau) dan marble size (jagung). Pupuk yang digunakan :<br />
1. Monokalsium Phospat ( MKP ) diberikan sebelum muncul tunas baru atau bud break dan pada saat bud break atau bud elongation (dosis 2,5 gr/liter).<br />
2. POC NASA diberikan saat bud break, bud elongation, (dosis 4-5 tutup/tangki).<br />
3. POC NASA (3-4 ttp) + HORMONIK (1 ttp) per tangki diberikan pada saat mango size dan marble size.<br />
<strong>HAMA DAN PENYAKIT </strong><br />
<em>a. Tip Borer, Clumetia transversa</em><br />
Ulat ini menggerek pucuk yang masih muda (flush) dan malai bunga dengan mengebor/menggerek tunas atau malai menuju ke bawah. Tunas daun atau malai bunga menjadi layu, kering akibatnya rusak dan transportasi unsur hara terhenti kemudian mati. Pengendalian; cabang tunas terinfeksi dipotong lalu dibakar, pendangiran untuk mematikan pupa, penyemprotan dengan PESTONA.<br />
<em>b. Thrips ( Scirtothrips dorsalis )</em><br />
Hama ini sering disebut thrips bergaris merah karena pada segment perut yang pertama terdapat suatu garis merah. Hama ini selain menyerang daun muda juga bunga dengan menusuk dan menghisap cairan dari epidermis daun dan buah. Tempat tusukan bisa menjadi sumber penyakit. Daun kelihatan seperti terbakar, warna coklat dan menggelinting. Apabila bunga diketok-ketok dengan tangan dan dibawahnya ditaruh alas dengan kertas putih akan terlihat banyak thrips yang jatuh. Pengendalian : tunas muda terserang dipotong lalu dibakar, tangkap dengan perangkap warna kuning, pemangkasan teratur, penyemprotan dengan BVR atau PESTONA<br />
<em>c. Ulat Phylotroctis sp.</em><br />
Warna sedikit coklat (beda dengan Clumetia sp. yang warnanya hijau) sering menggerek pangkal calon malai bunga. Telur Phyloctroctis sp. menetas dan dewasa menyerang tangkai buah muda (pentil). Buah muda gugur karena lapisan absisi pada tangkai buah bernanah kehitaman. Aktif pada malam hari. Pengendalian dengan PESTONA.<br />
<em>d. Seed Borer, Noorda albizonalis</em><br />
Hama ini menggerek buah pada bagian ujung atau tengah dan umumnya meninggalkan bekas kotoran dan sering menyebabkan buah pecah. Ulat ini langsung menggerek biji buah akibatnya buah busuk dan jatuh. Berbeda dengan Black Borer yang menggerek buah pada bagian pangkal buah. Lubang gerekan dapat sebagai sumber penyakit. Pengendalian : pembungkusan buah, kumpulkan buah terserang lalu dibakar, semprot dengan PESTONA.</span></p>
<p><em>e. Wereng mangga ( Idiocerus sp.)</em><br />
Serangan terjadi saat malai bunga stadia bud elongation. Nimfa dan wereng dewasa menyerang secara bersamaan dengan menghisap cairan pada bunga, sehingga kering, penyerbukan dan pembentukan buah terganggu kemudian mati. Serangan parah terjadi jika didukung cuaca panas yang lembab. Hama ini dapat mengundang tumbuh dan berkembangnya penyakit embun jelaga (sooty mold) dengan dikeluarkan embun madu dari wereng yang dapat menyebabkan phytotoxic pada tunas, daun dan bunga. Pengendalian : pengasapan, penyemprotan BVR/PESTONA sebelum bunga mekar/pada sore hari.</p>
<p><em>f.  Lalat Buah ( Bractocera dorsalis )</em><br />
Buah yang terserang mula-mula tampak titik hitam, di sekitar titik menjadi kuning, buah busuk serta terjadi perkembangan larva. Bersifat agravator yaitu memungkinkan serangan hama sekunder (Drosophilla sp.), jamur dan bakteri. Pengendalian : pembungkusan buah , pemasangan perangkap lalat buah.</p>
<p><em>g. Penyakit  Antraknose (Colletotrichum sp.)</em><br />
Terjadi bintik-bintik hitam pada flush, daun, malai dan buah. Serangan menghebat jika terlalu lembab, banyak awan, hujan waktu masa berbunga dan waktu malam hari timbul embun yang banyak. Apabila bunganya terserang maka seluruh panenan akan gagal karena bunga menjadi rontok. Pengendalian : pemangkasan, penanaman jangan terlalu rapat, bagian tanaman terserang dikumpulkan dan dibakar.</p>
<p><em>h. Penyakit Recife, Diplodia recifensis</em><br />
Penyakit ini disebut juga Blendok, vektor penyakit ini adalah kumbang Xyleborus affinis. Kumbang ini membuat terowongan di batang/cabang kemudian dan cendawan Diplodia masuk ke dalam terowongan. Di luar tempat kumbang menggerek akan keluar blendok (getah). Penyakit mangga lainnya seperti embun jelaga (jamur Meliola mangiferae), kudis/scab (Elsinoe mangiferae), bercak karat merah (ganggang Cephaleuros sp.)</p>
<p><strong>Catatan : Jika Pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida alami belum mengatasi, dapat digunakan pestisida kimia sesuai anjuran. Agar penyemprotan lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810 dosis + 5 ml (0,5 tutup)per tangki. Penyemprotan herbisida (untuk gulma) agar lebih efektif dan efisien dapat di campur Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangk</strong>i</p>
<p><strong>PANEN DAN PASCA PANEN</strong><br />
Panen dilakukan pada umur + 97 hari setelah bunga mekar, buah berbedak, dan pada jam 09.00 &#8211; 16.00 WIB dengan menyisakan tangkai buah sekitar 0,5 &#8211; 1 cm.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sila89.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sila89.wordpress.com/295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sila89.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sila89.wordpress.com/295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sila89.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sila89.wordpress.com/295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sila89.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sila89.wordpress.com/295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sila89.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sila89.wordpress.com/295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sila89.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sila89.wordpress.com/295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sila89.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sila89.wordpress.com/295/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sila89.wordpress.com&amp;blog=8664723&amp;post=295&amp;subd=sila89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sila89.wordpress.com/2009/09/10/budidaya-mangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a610b0efd361aab89f05e5521e32be80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">De&#039; Sila</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sila89.files.wordpress.com/2009/09/mangga.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mangga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Budidaya Jeruk</title>
		<link>http://sila89.wordpress.com/2009/09/10/budidaya-jeruk/</link>
		<comments>http://sila89.wordpress.com/2009/09/10/budidaya-jeruk/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 14:13:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sila Adnyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budidaya Tanaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sila89.wordpress.com/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[I. PENDAHULUAN Prospek agribisnis jeruk di Indonesia cukup bagus karena potensi lahan produksi yang luas. Melalui program peningkatan kualitas sumberdaya petani jeruk serta didukung dengan hasil inovasi teknologi pemupukan dan hormon alami, pengelolaan hama dan penyakit terpadu, serta sistem budidaya lainnya yang semuanya didasarkan pada semangat ramah lingkungan akan meningkatkan Kuantitas dan Kualitas produksi jeruk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sila89.wordpress.com&amp;blog=8664723&amp;post=286&amp;subd=sila89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Arial;font-size:85%;"><strong> </strong></span></p>
<div id="attachment_287" class="wp-caption alignleft" style="width: 145px"><strong><strong><a rel="attachment wp-att-287" href="http://sila89.wordpress.com/2009/09/10/budidaya-jeruk/jeruk/"><img class="size-full wp-image-287" title="JERUK" src="http://sila89.files.wordpress.com/2009/09/jeruk.jpg?w=500" alt="sila89.wordpress.com"   /></a></strong></strong><p class="wp-caption-text">sila89.wordpress.com</p></div>
<p><strong>I. PENDAHULUAN</strong><br />
Prospek agribisnis jeruk di Indonesia cukup bagus karena potensi lahan produksi yang luas. Melalui program peningkatan kualitas sumberdaya petani jeruk serta didukung dengan hasil inovasi teknologi pemupukan dan hormon alami, pengelolaan hama dan penyakit terpadu, serta sistem budidaya lainnya yang semuanya didasarkan pada semangat ramah lingkungan akan meningkatkan Kuantitas dan Kualitas produksi jeruk dengan tetap menjaga Kelestarian lingkungan.</p>
<p><strong>II. SYARAT PERTUMBUHAN</strong><br />
Perlu 6-9 bulan basah (musim hujan), curah hujan 1000-2000 mm/th merata sepanjang tahun, perlu air yang cukup terutama di bulan Juli-Agustus. Temperatur optimal antara 25-30 °C dan kelembaban optimum sekitar 70-80%. Kecepatan angin lebih dari 40-48% akan merontokkan bunga dan buah. Ketinggian optimum antara 1-1200 m dpl. Jeruk tidak menyukai tempat yang terlindung dari sinar matahari. Jenis tanah Andosol dan Latosol sangat cocok, derajat keasaman tanah (pH tanah) adalah 5,5-6,5 . Air tanah optimal pada kedalaman 150-200 cm di bawah permukaan tanah. Pada musim kemarau 150 cm dan pada musim hujan 50 cm. Tanaman jeruk menyukai air yang mengandung garam sekitar 10%.<br />
<strong>III. PEDOMAN TEKNIS   BUDIDAYA</strong><br />
<em>3.1. Pembibitan</em><br />
<em>3.1.1. Cara generatif</em><br />
Biji diambil dari buah dengan memeras buah yang telah dipotong. Biji dikeringanginkan di tempat yang tidak disinari selama 2-3 hari hingga lendirnya hilang. Tanah persemaian diolah sedalam 30-40 cm dan dibuat petakan berukuran 1,15-1,20 m membujur dari utara ke selatan. Jarak petakan 0,5-1m. Sebelum ditanami, tambahkan pupuk kandang 1 kg/m2. Biji ditanam dalam alur dengan jarak tanam 1-1,5 x 2 cm dan langsung disiram larutan POC NASA + 1-2 cc/lt air. Persemaian diberi atap. Bibit dipindahtanam ke dalam polibag 15 x 35 cm setelah tingginya 20 cm pada umur 3-5 bulan. Media tumbuh dalam polibag adalah campuran pupuk kandang dan sekam (2:1) atau pupuk kandang, sekam, pasir (1:1:1) atau cukup dengan menggunakan tanah biasa disiram POC NASA (3-4 tutup) + HORMONIK (1 tutup) per 10-15 liter air.</p>
<p><em>3.1.2. Cara Vegetatif</em><br />
Metode dengan cara penyambungan tunas pucuk dan penempelan mata tempel. Untuk kedua cara ini perlu dipersiapkan batang bawah (understam/rootstock) yang dipilih dari jenis jeruk dengan perakaran kuat dan luas, daya adaptasi lingkungan tinggi, tahan kekeringan, tahan/toleran terhadap penyakit virus, busuk akar dan nematoda. Varietas batang bawah yang biasa digunakan adalah Japanese citroen, Rough lemon, Cleopatra, Troyer Citrange dan Carizzo citrange. Setelah penyambungan tunas pucuk atau penempelan mata tempel, segera disemprot menggunakan POC NASA (3-4 tutup/tangki ) + HORMONIK (1 tutup/tangki ).</p>
<p><em>3.1.2.1. Pengolahan Media Tanam</em><br />
Lahan yang akan ditanami dibersihkan dari tanaman lain atau sisa-sisa tanaman. Jarak tanam bervariasi untuk setiap jenis jeruk dapat dilihat pada data berikut ini: (a) Keprok dan Siem jarak tanam 5 x 5 m; (b) Manis : jarak tanam 7 x 7 m; (c) Sitrun (Citroen) : jarak tanam 6 x 7 m; (d) Nipis : jarak tanam 4 x 4 m; (e) Grape fruit : jarak tanam 8 x 8 m; (f) Besar : jarak tanam (10-12) x (10-12) m.<br />
Lubang tanam dibuat 2 minggu sebelum tanam. Tanah bagian dalam dipisahkan dengan tanah dari lapisan atas. Tanah berasal dari lapisan atas dicampur dengan 1-2 kg pupuk kandang dan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan.<br />
Pengembangbiakan Natural GLIO : 1-2 kemasan Natural GLIO dicampur 50-100 kg pupuk kandang untuk lahan 1000 m2. Selanjutnya didiamkan di tempat yang terlindung dari sinar matahari + 1 minggu dengan selalu menjaga kelembabannya dan sesekali diaduk (dibalik).</p>
<p><em>3.1.2.2. Teknik Penanaman</em><br />
Bibit jeruk dapat ditanam pada musim hujan atau musim kemarau jika tersedia air untuk menyirami, tetapi sebaiknya ditanam diawal musim hujan. Sebelum ditanam, perlu dilakukan: (a) Pengurangan daun dan cabang yang berlebihan; (b) Pengurangan akar; (c) Pengaturan posisi akar agar jangan ada yang terlipat.<br />
Setelah bibit ditanam, siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata dengan dosis ± 1 tutup POC NASA per liter air setiap pohon. Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA. Adapun cara penggunaan SUPER NASA adalah sebagai berikut: 1 (satu) botol SUPER NASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap<br />
1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi disiramkan setiap pohon.<br />
Beri mulsa jerami, daun kelapa atau daun-daun yang bebas penyakit di sekitar bibit. Letakkan mulsa sedemikian rupa agar tidak menyentuh batang untuk menghindari kebusukan batang. Sebelum tanaman berproduksi dan tajuknya saling menaungi, dapat ditanam tanaman sela baik kacang-kacangan/sayuran. Setelah tajuk saling menutupi, tanaman sela diganti oleh rumput/tanaman legum penutup tanah yang sekaligus berfungsi sebagai penambah nitrogen bagi tanaman jeruk.</p>
<p><strong>IV. PEMELIHARAAN TANAMAN</strong><br />
<strong><em>4.1. Penyulaman</em></strong><br />
Dilakukan pada tanaman yang tidak tumbuh.<br />
<strong><em>4.2. Penyiangan</em></strong><br />
Gulma dibersihkan sesuai dengan frekuensi pertumbuhannya, pada saat pemupukan juga dilakukan penyiangan.<br />
<strong><em>4.3. Pembubunan</em></strong><br />
Jika ditanam di tanah berlereng, perlu diperhatikan apakah ada tanah di sekitar perakaran yang tererosi. Penambahan tanah perlu dilakukan jika pangkal akar sudah mulai terlihat.<br />
<strong><em>4.4. Pemangkasan</em></strong><br />
Pemangkasan bertujuan untuk membentuk tajuk pohon dan menghilangkan cabang yang sakit, kering dan tidak produktif. Dari tunas-tunas awal yang tumbuh biarkan 3-4 tunas pada jarak seragam yang kelak akan membentuk tajuk pohon. Pada pertumbuhan selanjutnya, setiap cabang memiliki 3-4 ranting atau kelipatannya. Bekas luka pangkasan ditutup dengan fungisida atau lilin untuk mencegah penyakit. Sebaiknya celupkan dulu gunting pangkas ke dalam alkohol. Ranting yang sakit dibakar atau dikubur dalam tanah.<br />
<strong><em>4.5. Pemupukan Susulan</em></strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="60" valign="top">
<p align="center">Umur<br />
(tahun)</td>
<td colspan="3" width="330" valign="top">
<p align="center">Dosis Pupuk Makro (gr/pohon)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="108" valign="top">
<p align="center">Urea</p>
</td>
<td width="102" valign="top">
<p align="center">TSP</p>
</td>
<td width="120" valign="top">
<p align="center">KCl</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">1</p>
</td>
<td width="108" valign="top">
<p align="center">80</p>
</td>
<td width="102" valign="top">
<p align="center">170</p>
</td>
<td width="120" valign="top">
<p align="center">170</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">2</p>
</td>
<td width="108" valign="top">
<p align="center">160</p>
</td>
<td width="102" valign="top">
<p align="center">325</p>
</td>
<td width="120" valign="top">
<p align="center">250</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">3</p>
</td>
<td width="108" valign="top">
<p align="center">250</p>
</td>
<td width="102" valign="top">
<p align="center">500</p>
</td>
<td width="120" valign="top">
<p align="center">325</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">4</p>
</td>
<td width="108" valign="top">
<p align="center">325</p>
</td>
<td width="102" valign="top">
<p align="center">170</p>
</td>
<td width="120" valign="top">
<p align="center">425</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">5</p>
</td>
<td width="108" valign="top">
<p align="center">400</p>
</td>
<td width="102" valign="top">
<p align="center">210</p>
</td>
<td width="120" valign="top">
<p align="center">500</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">6</p>
</td>
<td width="108" valign="top">
<p align="center">500</p>
</td>
<td width="102" valign="top">
<p align="center">250</p>
</td>
<td width="120" valign="top">
<p align="center">600</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">7</p>
</td>
<td width="108" valign="top">
<p align="center">600</p>
</td>
<td width="102" valign="top">
<p align="center">300</p>
</td>
<td width="120" valign="top">
<p align="center">700</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">8</p>
</td>
<td width="108" valign="top">
<p align="center">700</p>
</td>
<td width="102" valign="top">
<p align="center">325</p>
</td>
<td width="120" valign="top">
<p align="center">780</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">9</p>
</td>
<td width="108" valign="top">
<p align="center">780</p>
</td>
<td width="102" valign="top">
<p align="center">390</p>
</td>
<td width="120" valign="top">
<p align="center">850</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">10</p>
</td>
<td width="108" valign="top">
<p align="center">850</p>
</td>
<td width="102" valign="top">
<p align="center">425</p>
</td>
<td width="120" valign="top">
<p align="center">900</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">&gt;10</p>
</td>
<td colspan="3" width="330" valign="top">Sebaiknya dilakukan analisis tanah</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="4" width="390" valign="top">
<p align="center">Dosis POC NASA mulai awal tanam :</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">0-3</p>
</td>
<td colspan="3" width="330" valign="top">2-3 tutup/diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang setiap 4-5 bulan sekali (sesekali bisa disemprot ke daun)</td>
</tr>
<tr>
<td width="60" valign="top">
<p align="center">&gt;3</p>
</td>
<td colspan="3" width="330" valign="top">3-4 tutup/diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang setiap 3-4 bulan sekali (sesekali bisa disemprot ke daun)</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><span style="font-family:Arial;font-size:85%;"><br />
Catatan: Akan Lebih baik pemberian diselingi/ditambah SUPER NASA 1-2 kali/tahun dosis 1 botol untuk + 200 pohon. Cara lihat pada Teknik Penanaman (Point 3.1.2.2.)<br />
<em><strong>4.6. Penggunaan Hormonik</strong></em><br />
Hormonik dapat diberikan terutama setelah tanaman berumur 2 tahun, atau diberikan sejak awal lebih bagus. Caranya melalui penyiraman atau penyemprotan bersama dengan POC NASA (3-5 tutup POC NASA ditambah 1 tutup Hormonik).<br />
<em><strong>4.7.Pengairan dan Penyiraman</strong></em><br />
Penyiraman jangan berlebih. Tanaman diairi sedikitnya satu kali dalam seminggu pada musim kemarau. Jika air kurang tersedia, tanah di sekitar tanaman digemburkan dan ditutup mulsa.<br />
<em><strong>4.8. Penjarangan Buah</strong></em><br />
Pada saat pohon jeruk berbuah lebat, perlu dilakukan penjarangan supaya pohon mampu mendukung pertumbuhan, bobot buah serta kualitas buah. Buah yang dibuang meliputi buah sakit, tidak terkena sinar matahari (di dalam kerimbunan daun) dan kelebihan buah di dalam satu tangkai. Hilangkan buah di ujung kelompok buah dalam satu tangkai utama dan sisakan hanya 2-3 buah.<br />
<strong>V. Hama dan Penyakit</strong><br />
<em><strong>5.1. Hama</strong></em><br />
<em>a. Kutu loncat (Diaphorina citri.)</em><br />
Bagian diserang : tangkai, kuncup daun, tunas, daun muda. Gejala: tunas keriting, tanaman mati. Pengendalian: menggunakan PESTONA atau Natural BVR. Penyemprotan dilakukan menjelang dan saat bertunas, buang bagian yang terserang.<br />
<em>b. Kutu daun (Toxoptera citridus aurantii, Aphis gossypii.)</em><br />
Bagian diserang : tunas muda dan bunga. Gejala: daun menggulung dan membekas sampai daun dewasa. Pengendalian: menggunakan PESTONA atau Natural BVR.<br />
<em>c. Ulat peliang daun (Phyllocnistis citrella.)</em><br />
Bagian diserang : daun muda. Gejala: alur melingkar transparan atau keperakan, tunas/daun muda mengkerut, menggulung, rontok. Pengendalian: semprotkan dengan PESTONA. Kemudian daun dipetik dan dibenamkan dalam tanah.<br />
<em>d. Tungau (Tenuipalsus sp. , Eriophyes sheldoni Tetranychus sp)</em><br />
Bagian diserang : tangkai, daun dan buah. Gejala: bercak keperak-perakan atau coklat pada buah dan bercak kuning atau coklat pada daun. Pengendalian: semprotkan PESTONA atau Natural BVR.<br />
<em>e. Penggerek buah (Citripestis sagittiferella.)</em><br />
Bagian diserang : buah. Gejala: lubang gerekan buah keluar getah. Pengendalian: memetik buah yang terinfeksi, disemprot PESTONA pada buah berumur 2-5 minggu.<br />
<em>f. Kutu penghisap daun (Helopeltis antonii.)</em><br />
Bagian diserang : tunas, daun muda dan pentil. Gejala: bercak coklat kehitaman dengan pusat berwarna lebih terang pada tunas dan buah muda, bercak disertai keluarnya cairan buah yang menjadi nekrosis. Pengendalian: semprotkan PESTONA<br />
<em>g. Thrips (Scirtotfrips citri.)</em><br />
Bagian diserang : tangkai dan daun muda. Gejala: helai daun menebal, tepi daun menggulung ke atas, daun di ujung tunas menjadi hitam, kering dan gugur, bekas luka berwarna coklat keabu-abuan kadang disertai nekrotis. Pengendalian: menjaga agar tajuk tanaman tidak terlalu rapat dan sinar matahari masuk ke bagian tajuk, hindari memakai mulsa jerami. Kemudian gunakan PESTONA atau Natural BVR.<br />
<em>h. Kutu dompolon (Planococcus citri.)</em><br />
Bagian diserang : tangkai buah. Gejala: berkas berwarna kuning, mengering dan buah gugur. Pengendalian: gunakan PESTONA. atau Natural BVR. Cegah datangnya semut sebagai vektor kutu.<br />
<em>i. Lalat buah (Dacus sp.)</em><br />
Bagian diserang : buah yang hampir masak. Gejala: lubang kecil di bagian tengah, buah gugur, belatung kecil di bagian dalam buah. Pengendalian: gunakan Perangkap lalat Buah.</span></p>
<p><strong>5.2. Penyakit</strong><br />
<em>a. CVPD</em><br />
Penyebab: Bacterium like organism dengan vektor kutu loncat Diaphorina citri. Bagian yang diserang: silinder pusat (phloem) batang. Gejala: daun sempit, kecil, lancip, buah kecil, asam, biji rusak dan pangkal buah oranye. Pengendalian: gunakan bibit tanaman bebas CVPD. Lokasi kebun minimal 5 km dari kebun jeruk yang terserang CVPD. Gunakan Pestona atau Natural BVR untuk mengendalikan vektor.<br />
<em>b. Blendok</em><br />
Penyebab: jamur Diplodia natalensis. Bagian diserang : batang atau cabang. Gejala: kulit ketiak cabang menghasilkan gom yang menarik perhatian kumbang, warna kayu jadi keabu-abuan, kulit kering dan mengelupas. Pengendalian: pemotongan cabang terinfeksi. Bekas potongan diolesi POC NASA + Hormonik + Natural GLIO. POC NASA dan Hormonik bukan berfungsi mengendalikan Blendok, namun dapat meningkatkan daya tahan terhadap serangan penyakit.<br />
<em>c. Embun tepung</em><br />
Penyebab: jamur Oidium tingitanium. Bagian diserang : daun dan tangkai muda. Gejala: tepung berwarna putih di daun dan tangkai muda. Pengendalian: gunakan Natural GLIO pada awal tanam.<br />
<em>d. Kudis</em><br />
Penyebab: jamur Sphaceloma fawcetti. Bagian diserang : daun, tangkai atau buah. Gejala: bercak kecil jernih yang berubah menjadi gabus berwarna kuning atau oranye. Pengendalian: pemangkasan teratur, gunakan Natural GLIO pada awal tanam.<br />
<em>e. Busuk buah</em><br />
Penyebab: Penicillium spp. Phytophtora citriphora, Botryodiplodia theobromae. Bagian diserang : buah. Gejala: terdapat tepung-tepung padat berwarna hijau kebiruan pada permukaan kulit. Pengendalian: hindari kerusakan mekanis, gunakan Natural GLIO awal tanam<br />
<em>f. Busuk akar dan pangkal batang</em><br />
Penyebab: jamur Phyrophthora nicotianae. Bagian diserang : akar, pangkal batang serta daun di bagian ujung. Gejala: tunas tidak segar, tanaman kering. Pengendalian: pengolahan dan pengairan yang baik, sterilisasi tanah pada waktu penanaman, buat tinggi tempelan minimum 20 cm dari permukaan tanah. gunakan Natural GLIO pada awal tanam<br />
<em>g. Buah gugur prematur</em><br />
Penyebab: jamur Fusarium sp. Colletotrichum sp. Alternaria sp. Bagian yang diserang: buah dan bunga. Gejala: dua-empat minggu sebelum panen buah gugur. Pengendalian: gunakan Natural GLIO pada awal tanam<br />
<em>h. Jamur upas</em><br />
Penyebab: Upasia salmonicolor. Bagian diserang : batang. Gejala: retakan melintang pada batang dan keluarnya gom, batang kering dan sulit dikelupas. Pengendalian: kulit yang terinfeksi dikelupas dan diolesi fungisida yang mengandung tembaga atau belerang, kemudian potong cabang yang terinfeksi.<br />
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.</p>
<p><strong>VI. Panen</strong><br />
Buah jeruk dipanen saat masak optimal berumur + 28-36 minggu, tergantung jenis/varietasnya. Buah dipetik dengan menggunakan gunting pangkas.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sila89.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sila89.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sila89.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sila89.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sila89.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sila89.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sila89.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sila89.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sila89.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sila89.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sila89.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sila89.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sila89.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sila89.wordpress.com/286/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sila89.wordpress.com&amp;blog=8664723&amp;post=286&amp;subd=sila89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sila89.wordpress.com/2009/09/10/budidaya-jeruk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a610b0efd361aab89f05e5521e32be80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">De&#039; Sila</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sila89.files.wordpress.com/2009/09/jeruk.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">JERUK</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
